Di era yang serba cepat dan instant seperti sekarang, banyak orang terbiasa menilai segala sesuatu dari hasil akhir. Seseorang dianggap berhasil karena gelarnya, jabatannya, atau capaian yang terlihat oleh mata.
Padahal dalam pandangan Islam, nilai seorang hamba tidak semata-mata diukur dari hasil yang dicapai, tetapi juga dari kesungguhan proses yang ditempuh.
Ibarat seorang petani, yang dinilai bukan hanya saat panen tiba, tetapi sejak ia mengolah tanah, menanam benih, menyiram, dan merawat tanamannya dengan sabar.
Begitu pula dalam menuntut ilmu. Allah SWT tidak hanya menghargai seorang alim yang telah sampai pada puncak keilmuan, tetapi juga menghargai setiap hamba yang sedang berjuang menuju ke sana.
Sebagaimana ungkapan hikmah Arab:
مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ
“Siapa yang terus berjalan di jalannya, niscaya akan sampai.”
Niat dan Kesungguhan: Fondasi Perjalanan Ilmu
Para ulama menjelaskan bahwa nilai suatu amal bermula dari niatnya. Imam Al-Zarnuji dalam Ta‘līmu al-Muta‘allimi Ṭarīqa at-Ta‘allumi menempatkan pembahasan niat pada bagian awal kitabnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi terlebih dahulu oleh tujuan yang benar.
Landasan utamanya adalah hadits yang sangat masyhur:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadits ini merupakan salah satu pokok terbesar dalam Islam karena menjadi ukuran diterima atau tidaknya sebuah amal. Oleh sebab itu, seorang yang berangkat menuju majelis ilmu dengan niat mencari ridha Allah telah mendapatkan nilai ibadah bahkan sebelum ia memahami seluruh pelajaran yang dipelajarinya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa ilmu termasuk ibadah hati yang paling agung. Ketika seseorang belajar dengan ikhlas, maka proses belajarnya sendiri telah menjadi bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Kemuliaan Orang yang Sedang Berproses
Tidak sedikit orang merasa minder karena merasa lambat memahami pelajaran atau belum mencapai tingkat ilmu yang tinggi. Padahal Islam mengajarkan bahwa kemuliaan tidak hanya diberikan kepada mereka yang telah sampai, tetapi juga kepada mereka yang istiqamah berjalan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Menurut Imam An-Nawawi, kata سَلَكَ طَرِيقًا (menempuh jalan) mencakup dua makna sekaligus: perjalanan fisik menuju majelis ilmu dan perjalanan maknawi berupa membaca, menghafal, menelaah, merenungkan, serta bersungguh-sungguh dalam memahami ilmu.
Perhatikanlah, hadits ini tidak mengatakan “barang siapa menjadi ulama”, tetapi “barang siapa menempuh jalan”. Artinya, penghargaan Allah sudah diberikan sejak seseorang memasuki proses tersebut.
Teladan Salaf Menghargai Perjalanan Ilmu
Dalam kitab Jāmi‘u Bayāni al-‘Ilmi wa Faḍlihī, Ibn Abd al-Barr meriwayatkan kisah sahabat Jabir bin Abdillah yang menempuh perjalanan selama sebulan menuju Syam hanya untuk memastikan kebenaran satu hadits dari Abdullah bin Unais. Perjalanan panjang itu menunjukkan betapa generasi terbaik umat ini memuliakan proses belajar.
Mereka memahami bahwa ilmu bukan sekadar informasi yang dikumpulkan, melainkan amanah yang harus dicari dengan kesungguhan. Karena itu, kelelahan dalam belajar bukanlah beban, melainkan bagian dari ibadah.
Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Iqtiḍā’u al-‘Ilmi al-‘Amala mengingatkan:
العِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ
“Ilmu dicari untuk diamalkan.”
Dengan demikian, proses menuntut ilmu tidak berhenti pada mengetahui, tetapi berlanjut pada mengamalkan dan menyebarkannya. Hasil akhir memang merupakan karunia Allah SWT, tetapi proses adalah bukti kejujuran seorang hamba dalam mencari ridha-Nya.Karena itu, jangan pernah meremehkan satu halaman yang dibaca, satu kajian yang dihadiri, atau satu pertanyaan yang diajukan untuk memahami agama. Bisa jadi, di situlah Allah melihat kesungguhan yang kelak menjadi sebab datangnya keberkahan, kemudahan, dan keselamatan di dunia serta akhirat. (im)






