Adab Menuntut Ilmu Fiqih bagi Muslim Awam (4): Mendahulukan Belajar daripada Berdebat

by -1672 Views

Menuntut ilmu fiqih pada hakikatnya adalah perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pemahaman yang benar terhadap syariat-Nya. Karena itu, seorang penuntut ilmu tidak seharusnya menjadikan ilmu sebagai alat untuk memenangkan perdebatan atau mencari kesalahan orang lain. 

Para ulama sejak generasi salaf telah mengingatkan bahwa keberkahan ilmu lebih dekat kepada hati yang tawadhu’ daripada kepada lisan yang gemar berdebat.

Dalam tradisi Islam dikenal sebuah hikmah yang sangat berharga:

العِلْمُ يُؤْتَى وَلَا يَأْتِي

“Ilmu itu didatangi dengan kesungguhan, bukan datang sendiri kepada seseorang.”

Ungkapan ini mengajarkan bahwa ilmu memerlukan proses, kesabaran, dan kerendahan hati. Sebaliknya, tergesa-gesa berbicara sebelum memahami akan melahirkan banyak kekeliruan.

Fenomena Media Sosial dan “Ustadz Instan”

Era digital menghadirkan kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Ribuan kajian, kitab, dan ceramah dapat diakses hanya melalui telepon genggam. Namun dibalik kemudahan tersebut terdapat tantangan besar, yaitu munculnya fenomena “ustadz instan” dan pakar agama dadakan.

Tidak sedikit orang yang merasa telah memahami agama hanya karena menyaksikan beberapa video pendek atau membaca beberapa unggahan di media sosial. Padahal, ilmu syariat memiliki disiplin, metodologi, dan perangkat yang tidak sederhana.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam pembahasannya mengenai perbedaan dan madzhab mengingatkan:

«نَرَى مِنْ خِلَالِ التَّجْرِبَةِ أَنَّ الَّذِينَ عَمِلُوا عَلَى إِلْغَاءِ الْمَذَاهِبِ لَمْ يَزِيدُوا عَلَى أَنْ أَقَامُوا مَذْهَبًا جَدِيدًا، وَرُبَّمَا كَانَ أَضْيَقَ وَأَشَدَّ تَعَصُّبًا»

“Kami melihat melalui pengalaman bahwa mereka yang berusaha menghapus madzhab tidaklah menambah kecuali mendirikan madzhab baru yang sering kali lebih sempit dan lebih fanatik.”

Peringatan ini menunjukkan bahwa semangat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah harus disertai dengan metodologi yang benar, bukan sekadar slogan yang lahir dari pemahaman yang dangkal.

Bahaya Belajar Agama Hanya dari Potongan Video

Salah satu penyakit intelektual zaman ini adalah mengambil kesimpulan besar dari informasi yang sangat sedikit. Potongan video berdurasi satu menit sering kali tidak mampu menjelaskan latar belakang dalil, perbedaan pendapat ulama, maupun syarat-syarat penerapan suatu hukum.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa:

«النُّصُوصُ الأَصْلِيَّةُ قَدْ تَحْتَمِلُ أَكْثَرَ مِنْ مَعْنًى وَاحِدٍ»

“Nas-nas syariat seringkali mengandung lebih dari satu kemungkinan makna.”

Karena itu, memahami agama memerlukan proses istinbath yang benar sebagaimana dijelaskan oleh para ahli ushul fiqih seperti Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Ushul al-Fiqh al-Islami. Mengambil satu dalil tanpa memahami keseluruhan konteksnya dapat melahirkan sikap keras, mudah menyalahkan, bahkan merusak persatuan umat.

Tidak mengherankan jika para ulama salaf lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar daripada berdebat. Mereka memahami bahwa tujuan ilmu adalah mendapatkan kebenaran, bukan kemenangan.

Pentingnya Membaca dan Mengaji Secara Sistematis

Tradisi keilmuan Islam dibangun di atas proses talaqqi (belajar langsung kepada guru), membaca kitab secara bertahap, dan memahami ilmu sesuai urutannya. Imam Hasan al-Banna dalam Ushul Isyrin mengajarkan pentingnya membangun pemahaman agama secara seimbang dan tidak terjebak dalam perdebatan cabang yang berkepanjangan.

Beliau juga mewariskan kaidah persatuan yang sangat terkenal:

«نَتَعَاوَنُ فِيمَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ، وَيَعْذُرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيمَا اخْتَلَفْنَا فِيهِ»

“Kita saling bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling memberikan uzur dalam perkara yang kita perselisihkan.”

Nasihat serupa juga diberikan oleh Imam al-Qarafi yang menganjurkan agar orang awam lebih fokus mempelajari persoalan yang dibutuhkan dalam ibadah dan muamalah sehari-hari daripada tenggelam dalam perdebatan yang tidak memberikan manfaat praktis.

Pada akhirnya, semakin dalam seseorang belajar, semakin ia menyadari luasnya ilmu Allah dan terbatasnya pengetahuan manusia. Karena itu, adab yang paling penting bagi seorang Muslim awam adalah mendahulukan belajar daripada berdebat. 

Tujuan ilmu fiqih bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk memperbaiki diri, menyempurnakan ibadah, dan mengantarkan hati menuju keridaan Allah SWT. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.