Adab Menyikapi Ilmu di Era Keterbukaan Informasi

by -1489 Views

Dalam Islam, ilmu tidak dipahami sebagai akumulasi data, tetapi sebagai ibadah yang menghubungkan seorang hamba dengan Allah. 

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam حلية طالب العلم menegaskan:

“أصل الأصول في هذه الحلية، بل في كل مطلوب، أن العلم عبادة”
“Pondasi dari seluruh pondasi dalam adab penuntut ilmu ini adalah bahwa ilmu itu ibadah.”

Karena itu, ilmu menuntut keikhlasan. Bila tercampur riya’, popularitas, atau kepentingan dunia, maka hilanglah keberkahannya. 

Sebagaimana dijelaskan para ulama, ilmu yang tidak dibangun di atas niat yang benar akan kehilangan ruhnya meskipun secara formal tampak benar.

Mengapa Semua Orang Kini Merasa Berhak Bicara?

Era media sosial menghadirkan fenomena baru: setiap orang memiliki “mikrofon”. Informasi menjadi sangat mudah diakses, tetapi tidak semua yang memiliki akses memiliki kompetensi. 

Syaikh Bakr Abu Zaid mengingatkan bahaya:

“من تصدر قبل أن يؤهل فقد تصدى للفضيحة”
“Siapa yang tampil sebelum layak, maka ia telah membuka pintu kehinaan bagi dirinya.”

Fenomena ini sebenarnya telah disinggung oleh para ulama salaf. Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata tentang orang yang banyak berdebat tanpa ilmu:

“مَلُّوا العبادة فخف عليهم الكلام وقلّ ورعهم فتكلموا”
“Mereka bosan beribadah, maka ringanlah bagi mereka berbicara, dan berkuranglah wara’ mereka sehingga mereka banyak berbicara.”

Kebebasan Bicara Bukan Otoritas Ilmu

Dalam Islam, kebebasan berbicara tidak identik dengan otoritas keilmuan. Ilmu memiliki sanad, metode, dan disiplin. Syaikh Bakr Abu Zaid menegaskan:

“الأصل في طلب العلم أن يؤخذ عن أفواه الشيوخ لا من بطون الكتب”
“Asal dalam menuntut ilmu adalah mengambilnya dari lisan para guru, bukan dari perut buku.”

Bahkan Al-Auza’i memperingatkan:

“كان هذا العلم شريفًا إذ كان يُتلقّى من أفواه الرجال، فلما دخل في الكتب دخل فيه غير أهله”
“Ilmu ini mulia ketika diambil dari lisan para ulama, namun ketika masuk ke dalam buku-buku, masuk pula orang-orang yang bukan ahlinya.”

Karena itu, tradisi Islam menempatkan guru sebagai filter keilmuan, bukan sekadar buku atau bacaan bebas.

Tujuan Adab Ilmu: Menjaga Keseimbangan, Bukan Fanatisme

Adab dalam menuntut ilmu bertujuan membentuk sikap ilmiah yang seimbang. Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan bahwa tujuan adab ini adalah agar penuntut ilmu terhindar dari:

“…الانحراف والتعصب في طلب العلم والعمل…”
“…penyimpangan dan fanatisme dalam menuntut ilmu dan beramal…”

Seorang penuntut ilmu dituntut untuk bersikap objektif: menghormati ulama, memahami perbedaan, dan tidak terjebak dalam sikap ekstrem. 

Dalam رفع الملام عن الأئمة الأعلام, Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa perbedaan ulama lahir dari perbedaan metode memahami dalil, bukan karena hawa nafsu.

Penutup: Membangun Adab Berpikir

Pada akhirnya, tujuan utama pendidikan ilmu dalam Islam bukan sekadar mengetahui banyak pendapat, tetapi membentuk adab berpikir. Adab ini menjauhkan seseorang dari fanatisme buta sekaligus dari sikap meremehkan otoritas ilmiah.

Ilmu yang benar akan melahirkan kerendahan hati, bukan keberanian berbicara tanpa batas. Sebagaimana kaidah para ulama:

“من تكلم في غير فنه أتى بالعجائب”
“Siapa yang berbicara di luar bidangnya, maka ia akan mendatangkan keajaiban (kesalahan).”

Dengan demikian, keseimbangan antara akses informasi dan otoritas keilmuan menjadi kunci dalam menjaga kemurnian ilmu di era modern. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.