Taklim: Menghidupkan Pengajaran Agama di Rumah

by -1458 Views

Setelah memahami bahwa setiap orang tua memikul tanggung jawab menjaga keluarganya menuju keselamatan akhirat, muncul pertanyaan yang sangat mendasar: bagaimana amanah itu diwujudkan? 

Al-Qur’an tidak hanya memberikan tujuan, tetapi juga menunjukkan jalannya. Salah satu jalan terpenting adalah taklim, yaitu menghidupkan pengajaran ilmu agama di dalam rumah.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm [66]: 6)

Menurut Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Ṣafwatut Tafāsīr, menjaga keluarga dari neraka bukan sekadar dengan rasa cinta, tetapi melalui pendidikan yang menghadirkan ilmu dan ketaatan. Beliau menjelaskan:

«قُوا أَزْوَاجَكُمْ وَأَوْلَادَكُمْ النَّارَ بِأَنْ تُذَكِّرُوهُمْ بِاللَّهِ، وَتُعَلِّمُوهُمْ مَا وَجَبَ عَلَيْهِمْ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، وَتُؤَدِّبُوهُمْ بِآدَابِ الشَّرِيعَةِ، وَتَأْمُرُوهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ.»

“Peliharalah istri dan anak-anak kalian dari neraka dengan mengingatkan mereka kepada Allah, mengajarkan kewajiban-kewajiban agama, mendidik mereka dengan adab syariat, dan memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah.”

Perhatikan bahwa kata pertama yang muncul dalam penjelasan tersebut adalah mengajarkan. Ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan pintu pertama menuju amal. Seseorang tidak akan mampu melaksanakan syariat dengan benar apabila ia belum mengenalnya.

Karena itulah para ulama sejak dahulu mengatakan:

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.”

Ungkapan yang dinukil oleh Imam al-Bukhari pada awal Ṣaḥīḥ-nya ini menjadi kaidah besar dalam pendidikan Islam. Amal yang benar lahir dari ilmu yang benar.

Rumah yang Dipenuhi Cahaya Ilmu

Kata taklim berasal dari akar kata عَلَّمَ yang berarti mengajar, memberikan pengetahuan, dan membimbing seseorang agar memahami sesuatu. Dalam konteks keluarga, taklim bukanlah kegiatan belajar yang kaku sebagaimana di ruang kelas. Taklim adalah budaya belajar yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Rumah yang hidup dengan taklim adalah rumah yang di dalamnya Al-Qur’an dibaca, hadis dipelajari, doa diajarkan, pertanyaan anak dihargai, dan nilai-nilai Islam dibicarakan dengan penuh kasih sayang.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsīr al-Munīr menjelaskan bahwa menjaga keluarga dilakukan dengan memberikan nasihat, mengajarkan perkara-perkara agama yang wajib diketahui, serta membimbing mereka kepada adab Islam. Beliau juga mengutip wasiat Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu:

عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ

“Ajarkanlah mereka ilmu dan didiklah mereka dengan adab.”

Kalimat yang singkat ini menyimpan filosofi pendidikan yang sangat mendalam. Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu dapat kehilangan arah. Karena itu, pengajaran agama harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlak.

Dalam perspektif pendidikan Islam, orang tua bukan dituntut menjadi ulama yang menguasai seluruh cabang ilmu, tetapi menjadi pembelajar yang menghadirkan suasana cinta ilmu di rumah. Anak-anak akan lebih mudah mencintai Al-Qur’an ketika mereka melihat orang tuanya juga akrab dengan Al-Qur’an.

Ada sebuah hikmah Arab yang sangat indah:

فَاقِدُ الشَّيْءِ لَا يُعْطِيهِ

“Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan mampu memberikannya.”

Karena itu, orang tua pun perlu terus belajar. Semakin bertambah ilmunya, semakin luas pula cahaya yang dapat ia hadirkan bagi keluarganya.

Taklim sebagai Investasi Jangka Panjang

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bahwa hadis ini menunjukkan besarnya nilai ilmu yang terus memberi manfaat, termasuk ilmu yang diwariskan kepada anak-anak sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi saleh.

Di sinilah letak hubungan yang erat antara taklim dan lahirnya dzurriyyatan ṭayyibah, generasi yang baik dan membawa keberkahan. Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi at-Tafsīr menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk kepribadian seorang mukmin. 

Ketika rumah dipenuhi ilmu dan zikir, anak-anak akan memiliki fondasi akidah yang kuat sehingga tidak mudah hanyut oleh perubahan zaman.

Pada akhirnya, taklim bukan sekadar kegiatan membaca kitab beberapa menit setiap hari. Taklim adalah proses menghadirkan cahaya wahyu dalam kehidupan keluarga. Ketika Al-Qur’an menjadi bahan dialog, hadis menjadi inspirasi perilaku, dan ilmu menjadi tradisi, rumah akan berubah menjadi madrasah yang melahirkan generasi yang mencintai Allah, memahami agama-Nya, dan mampu menjalani kehidupan dengan hikmah. 

Itulah salah satu bentuk nyata menjaga keluarga dari api neraka, sebagaimana diperintahkan Allah dalam Surah At-Taḥrīm ayat 6. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.