Mendidik Anak dengan Keteladanan

by -1621 Views

Ada satu hal yang sering dilupakan orang tua ketika berbicara tentang pendidikan anak: anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi terutama memperhatikan apa yang kita lakukan.

Seorang ayah mungkin berkali-kali menasihati anaknya agar jujur. Namun, jika suatu ketika anak melihat ayahnya berbohong untuk menyelesaikan sebuah urusan, nasihat yang panjang itu dapat kehilangan kekuatannya. Seorang ibu mungkin mengajarkan anaknya agar rajin membaca Al-Qur’an. Tetapi apabila anak lebih sering melihat ibunya memegang telepon daripada mushaf, anak akan belajar sesuatu yang berbeda dari apa yang diajarkan secara lisan.

Karena itu, dalam pendidikan Islam terdapat metode yang sangat mendasar, yaitu at-tarbiyah bil-qudwah, pendidikan melalui keteladanan. Qudwah berarti sesuatu yang dijadikan contoh dan diikuti. Keteladanan berarti menghadirkan nilai dalam bentuk perilaku nyata sehingga anak tidak sekadar mengetahui kebaikan, tetapi melihat bagaimana kebaikan itu dijalankan.

Keluarga Qur’ani tidak cukup hanya memiliki aturan yang baik. Ia membutuhkan orang tua yang menjadi contoh hidup dari aturan tersebut.

Anak Belajar dari Apa yang Ia Lihat

Allah SWT menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan bagi orang-orang beriman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzāb [33]: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan melalui keteladanan bukan sekadar metode pedagogis, melainkan bagian penting dari manhaj Islam. Sayyid Quthb dalam Fī Zilāl al-Qur’ān memberikan perhatian besar pada kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai uswah hasanah: nilai-nilai Islam tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi diwujudkan dalam kehidupan seorang manusia yang dapat dilihat, dicontoh, dan diikuti.

Demikian pula dalam keluarga.

Anak belajar tentang kejujuran ketika melihat orang tuanya jujur. Ia belajar tentang kesabaran ketika menyaksikan ayah dan ibunya menyelesaikan persoalan tanpa saling merendahkan. Ia belajar tentang shalat ketika melihat kedua orang tuanya menjaga shalat meskipun sedang sibuk. Ia belajar tentang kasih sayang ketika merasakan kelembutan dalam interaksi sehari-hari.

Inilah sebabnya pendidikan anak sesungguhnya dimulai jauh sebelum orang tua memberikan nasihat pertama.

Pendidikan anak dimulai dari pendidikan diri orang tuanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membimbing kepada kebajikan, dan kebajikan membimbing menuju surga.” (HR. Muslim)

Karena itu, jangan terlalu cepat menyalahkan anak ketika karakter yang kurang baik muncul dalam dirinya. Ada baiknya orang tua terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri: nilai apa yang setiap hari sedang kami contohkan kepadanya?

Budaya Keluarga Dibangun dari Keteladanan

Keluarga bukan hanya sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah. Keluarga memiliki budaya. Ada keluarga yang membiasakan musyawarah, membaca Al-Qur’an, saling meminta maaf, makan bersama, dan menghormati orang yang lebih tua. Ada pula keluarga yang terbiasa berbicara dengan nada tinggi, sibuk dengan gawai masing-masing, dan jarang memiliki waktu untuk berbicara dari hati ke hati.

Semua itu pada akhirnya membentuk budaya keluarga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seorang ayah adalah pemimpin keluarganya. Seorang ibu juga memiliki amanah kepemimpinan dalam rumah dan terhadap anak-anaknya. Kepemimpinan tersebut bukan semata-mata persoalan siapa yang memiliki kewenangan, tetapi siapa yang bersedia menjadi contoh pertama dalam menjalankan nilai yang hendak dibangun.

Jika keluarga ingin anak mencintai Al-Qur’an, maka Al-Qur’an harus hidup terlebih dahulu dalam keseharian orang tua. Jika keluarga ingin anak menghormati orang lain, maka ayah dan ibu harus memperlihatkan penghormatan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika keluarga ingin anak memiliki adab dalam berbicara, maka rumah harus menjadi tempat pertama di mana adab tersebut dipraktikkan.

Dengan demikian, rumah memiliki semacam kurikulum yang tidak tertulis. Anak belajar bukan hanya dari apa yang dijelaskan dalam waktu tertentu, tetapi dari suasana yang ia rasakan setiap hari.

Rumah yang penuh dzikir akan mengajarkan dzikir. Rumah yang penuh penghormatan akan mengajarkan penghormatan. Rumah yang penuh pertengkaran juga akan mengajarkan sesuatu—meskipun bukan sesuatu yang diinginkan orang tua.

Kebiasaan Kecil, Pengaruh Besar

Keteladanan tidak selalu hadir dalam perkara besar. Justru sering kali ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan seorang anak tentang adab makan:

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di dekatmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikan bagaimana pendidikan diberikan. Tidak selalu melalui ceramah panjang, tetapi melalui arahan sederhana yang dilakukan dalam situasi nyata.

Demikian pula dengan kasih sayang. Rasulullah ﷺ mencium al-Hasan bin Ali r.a. ketika al-Aqra’ bin Habis melihatnya. Ketika orang tersebut merasa heran karena ia sendiri tidak pernah mencium anak-anaknya, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pelajaran seperti ini sangat penting bagi keluarga. Anak tidak hanya membutuhkan instruksi tentang kasih sayang. Ia membutuhkan pengalaman dikasihi.

Demikian pula dengan kebiasaan mengucapkan salam, membaca basmalah, menjaga kebersihan, meminta izin, menghormati tamu, membantu pekerjaan rumah, mengendalikan amarah, dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Semua itu tampak kecil, tetapi jika dilakukan terus-menerus akan berubah menjadi karakter.

Dalam pendidikan, pengulangan melahirkan kebiasaan; kebiasaan yang baik, dengan izin Allah, membentuk karakter.

Jadilah Apa yang Ingin Kita Lihat pada Anak

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang layak direnungkan oleh setiap orang tua:

“Anak seperti apa yang ingin saya lihat sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang?”

Jika kita ingin melihat anak yang dekat dengan Allah, maka kita perlu menunjukkan kedekatan itu dalam kehidupan kita. Jika kita ingin anak mencintai Al-Qur’an, maka biarkan ia melihat Al-Qur’an hadir dalam keseharian orang tuanya. Jika kita ingin anak lembut, maka ia perlu merasakan kelembutan. Jika kita ingin anak bertanggung jawab, maka ia harus melihat tanggung jawab dijalankan oleh orang-orang yang paling ia percaya.

Inilah at-tarbiyah bil-qudwah.

Keteladanan tidak berarti orang tua harus menjadi manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Namun, ketika orang tua melakukan kesalahan, mereka juga dapat memberikan teladan dengan mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaikinya.

Justru di situlah anak belajar bahwa menjadi seorang Muslim bukan berarti tidak pernah salah, melainkan selalu kembali kepada kebenaran ketika menyadari kesalahan.

Keluarga Qur’ani pada akhirnya bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah. Ia adalah keluarga yang memiliki nilai untuk kembali ketika menghadapi masalah. Nilai itu tidak cukup dituliskan di dinding rumah atau diajarkan dalam nasihat. Ia harus hidup dalam perilaku ayah dan ibu.

Karena anak mungkin melupakan banyak nasihat yang pernah kita sampaikan. Tetapi ia akan membawa dalam dirinya suasana rumah yang pernah ia alami, kebiasaan yang pernah ia lihat, dan keteladanan yang pernah ia saksikan.

Maka, sebelum bertanya, “Bagaimana mendidik anak-anak kita?”, mungkin pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Sudahkah kita menjadi orang tua yang layak diteladani oleh mereka?”

Di situlah pendidikan keluarga dimulai. Dari diri. Dari rumah. Dari keteladanan. Dan dari kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan dengan istiqamah karena mengharap rida Allah SWT. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.