Menutup Pintu Digital yang Menuju Kehancuran Keluarga

by -1498 Views

Perselingkuhan pada masa lalu biasanya membutuhkan pertemuan fisik. Hari ini, perselingkuhan dapat dimulai dari sebuah pesan. “Hai.”, atau “Selamat sore” atau bahkan “Assalamualaikum”.

Kemudian disusul percakapan ringan. Berlanjut menjadi percakapan pribadi. Kemudian muncul curhat. Lalu muncul rasa nyaman. Setelah itu muncul ketergantungan emosional. Dan akhirnya, hubungan yang semula tampak tidak berbahaya berubah menjadi ancaman bagi pernikahan.

Inilah mengapa prinsip saddudz dzarā’i sangat relevan dalam kehidupan digital.

Islam tidak hanya bertanya: “Apakah kamu berzina?” Tetapi Islam juga mengajarkan: “Apakah kamu sedang berjalan menuju zina?”

Disinilah pentingnya memahami bahwa komunikasi antara laki-laki dan perempuan tidak boleh dilepaskan dari adab dan batasan syariat. Ingatlah, “Setan akan menjadi pihak ketiga dalam setiap interaksi yang melampaui batas mahram.”

Prinsip ini tentu tidak berarti bahwa setiap komunikasi antara laki-laki dan perempuan adalah haram. Islam tidak melarang interaksi sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Namun, Islam memberikan pagar. Ada tujuan yang jelas. Ada adab. Ada batas. Ada kebutuhan. Dan ada kesadaran bahwa hati manusia dapat berubah.

Perselingkuhan digital seringkali tidak dimulai dengan niat untuk berselingkuh. Ia dimulai dengan kelalaian. Inilah yang disebut ghaflah.

Seseorang merasa dirinya kuat. Ia merasa mampu mengendalikan diri. Ia berkata: “Kami hanya berteman.” “Kami hanya berbicara.” “Tidak ada apa-apa.” Namun, hubungan yang terus dipelihara dapat mengubah keadaan hati. 

Seorang mukmin harus memiliki muraqabah. Ketika seseorang memahami bahwa Allah selalu melihatnya, maka ia akan menjaga dirinya bahkan ketika tidak ada pasangan, orang tua, atau siapa pun yang melihat.

Inilah benteng yang sesungguhnya. Bukan password. Bukan aplikasi pengawasan. Bukan kamera atau CCTV,  melainkan takwa.

Teknologi dapat disembunyikan dari manusia, tetapi tidak dari Allah.

Gaming Addiction: Ketika Alat Menjadi Tujuan

Tidak semua ancaman digital berbentuk seksual secara langsung. Kecanduan teknologi juga dapat menghancurkan keluarga. Salah satunya adalah kecanduan gim.

Pada awalnya gim mungkin hanya menjadi hiburan. Beberapa menit. Kemudian satu jam. Lalu beberapa jam.

Tanpa disadari, waktu untuk shalat berkurang, waktu untuk belajar berkurang, waktu untuk berbicara dengan keluarga berkurang, dan waktu untuk tidur pun terganggu.

Masalahnya bukan pada permainan semata.

Masalahnya adalah ketika alat mengambil alih kendali manusia.

Dalam bahan rujukan ini digambarkan bahwa manusia modern dapat menjadi:

“budak bagi mesin yang ia ciptakan sendiri.”

Ini merupakan paradoks besar peradaban modern.

Manusia menciptakan teknologi untuk memudahkan kehidupannya, tetapi kemudian justru kehidupannya dikendalikan oleh teknologi.

Qaradhawi juga mengingatkan bahwa masyarakat modern dapat:

“menang melawan alam, namun gagal menang melawan hawa nafsu dan dirinya sendiri.”

Keluarga Qur’ani harus memahami bahwa teknologi adalah wasīlah, bukan ghāyah.

Ia adalah sarana, bukan tujuan. Karena itu, keluarga harus mengajarkan kepada anak: “Teknologi adalah sarana (wasā’il) untuk kemaslahatan, bukan tujuan (ghāyāt) yang memperbudak jiwa.”

Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi anak-anak. Orang tua juga harus melakukan introspeksi. Tidak adil jika ayah melarang anak bermain gim terlalu lama tetapi dirinya sendiri tidak pernah melepaskan telepon genggam. Tidak adil jika ibu melarang anak menggunakan media sosial berlebihan tetapi setiap waktu luangnya dihabiskan dengan menggulir layar.

Anak belajar dari contoh.

Keluarga membutuhkan kesepakatan digital bersama. Misalnya: waktu tanpa telepon ketika makan bersama; waktu khusus untuk belajar; waktu khusus untuk ibadah; pembatasan gim; larangan menggunakan perangkat sampai larut malam; perangkat tidak dibawa ke tempat tidur; dan evaluasi berkala mengenai kebiasaan digital keluarga.

Tujuannya bukan menciptakan rumah yang anti-teknologi. Tujuannya adalah menciptakan keluarga yang menguasai teknologi tanpa diperbudak olehnya.

AI dan Relasi Virtual

Tantangan baru yang semakin nyata adalah hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). AI dapat membantu manusia belajar, bekerja, mencari informasi, bahkan berkomunikasi. Namun, perkembangan teknologi juga menghadirkan fenomena baru berupa virtual partner, teman virtual, atau hubungan emosional antara manusia dengan sistem kecerdasan buatan.

Fenomena ini perlu dilihat dengan hati-hati. Salah satu penyebab manusia mencari hubungan virtual adalah karena adanya kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Syaikh Qaradhawi menjelaskan bahwa ketika manusia kehilangan cinta yang tulus dalam keluarga, mereka dapat mencari: “makhluk lain atau benda mati untuk dicintai karena merasa tidak mendapatkan kesetiaan dari sesama manusia.”

Pernyataan tersebut menunjukkan satu persoalan mendasar: manusia membutuhkan cinta. Tetapi Islam mengajarkan bahwa cinta manusia harus ditempatkan dalam hubungan yang benar.

Pernikahan bukan sekadar hubungan fisik. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ia adalah: “keterikatan manusia dengan manusia; yang melibatkan akal, nurani, dan ruh.”

Di sinilah relasi virtual memiliki keterbatasan mendasar. AI memang dapat memberikan respons, meniru gaya bahasa, memberikan perhatian berdasarkan pola percakapan, bahkan dapat memberikan kesan seolah-olah memahami seseorang.

Tetapi ia tidak menggantikan hakikat hubungan manusia, apalagi dalam pernikahan. Karena pernikahan dibangun dengan tanggung jawab, ada pengorbanan, ada kesabaran, ada kewajiban, ada amanah, ada proses saling mendidik, ada kehidupan bersama yang nyata. Dan semuanya dibingkai oleh sakan, mawaddah, dan rahmah.

Keluarga Qur’ani karena itu harus mengajarkan kecakapan baru: kecakapan membedakan antara kenyamanan digital dan cinta yang nyata. Seseorang dapat merasa “didengarkan” oleh teknologi, tetapi belum tentu ia sedang mengalami hubungan yang sehat. Seseorang dapat merasa “dimengerti” oleh sistem virtual, tetapi belum tentu ia sedang bertumbuh sebagai manusia.

Bahkan, jika seseorang menggunakan relasi virtual untuk melarikan diri dari konflik rumah tangga, persoalan sebenarnya tidak pernah selesai. Langkah yang diperlukan adalah memperbaiki komunikasi, menghidupkan kembali kasih sayang, membangun waktu bersama, mendengarkan pasangan.Dan mengembalikan rumah kepada fungsi aslinya sebagai tempat sakan.

Membangun Benteng Digital Keluarga

Menghadapi berbagai ancaman tersebut, keluarga tidak cukup hanya memiliki larangan. Keluarga membutuhkan sistem.

Pertama, bangun kesadaran iman. Anak harus memahami bahwa Allah melihatnya kapan pun dan di mana pun. Inilah muraqabah yang menjadi benteng paling dalam.

Kedua, bangun komunikasi terbuka. Jangan biarkan anak mendapatkan pendidikan seksual dari internet karena orang tua malu berbicara tentang seksualitas.

Pembicaraan mengenai aurat, pubertas, pergaulan, ketertarikan kepada lawan jenis, pornografi, dan bahaya internet harus dilakukan secara bertahap sesuai usia dan tingkat kematangan anak.

Ketiga, bangun batas digital. Rumah Qur’ani perlu memiliki aturan yang disepakati bersama mengenai penggunaan perangkat.

Keempat, bangun keteladanan. Orang tua tidak mungkin meminta anak mengurangi penggunaan gawai jika dirinya sendiri tidak mampu melepaskan gawai.

Kelima, bangun kedekatan emosional. Semakin hangat hubungan anak dengan orang tua, semakin kecil kemungkinan ia menjadikan dunia maya sebagai tempat utama untuk mencari penerimaan.

Keenam, bangun budaya ilmu. Anak perlu memiliki kemampuan untuk bertanya, memeriksa informasi, mengenali manipulasi, dan memahami nilai-nilai yang berada di balik sebuah konten.

Dengan demikian, al-wiqāyah tidak berhenti pada: “Jangan.” tetapi berkembang menjadi: “Pahami mengapa.” Kemudian: “Belajarlah memilih.” Dan akhirnya: “Jagalah dirimu karena Allah.” (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.