Alhamdulillah, kita telah menelusuri berbagai pilar tarbiyah keluarga yang digali dari firman Allah SWT dalam Surat At-Tahrim ayat 6. Mulai dari membangun kesalehan pribadi, menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), menguatkan keyakinan (darajat al-yaqin), menanamkan ilmu (taklim), membentuk adab (tadib), hingga membangun keluarga yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
Seluruh pilar tersebut sesungguhnya bermuara pada satu komitmen besar: menjaga keluarga agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah hingga akhir hayat.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini merupakan perintah agar setiap mukmin mendidik dirinya terlebih dahulu, kemudian mengajarkan keluarganya untuk menaati Allah dan menjauhi maksiat.
Penjelasan yang senada disampaikan Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir. Beliau menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari neraka dilakukan melalui nasihat, pendidikan agama, pembinaan akhlak, dan pembiasaan ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat tumbuhnya iman.
Disinilah makna “Benteng Cahaya” yang kita bahas sejak awal. Sebuah benteng tidak dibangun dalam sehari, dan tidak pula dijaga hanya ketika ancaman datang. Ia dirawat setiap hari dengan kesungguhan dan kewaspadaan.
Demikian pula keluarga. Tarbiyah keluarga bukan pekerjaan sesaat, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, doa, keteladanan, dan kasih sayang.
Menjaga Keseimbangan antara Harapan dan Ketegasan
Salah satu pelajaran penting dari Surat At-Tahrim ayat 6 adalah keseimbangan antara kasih sayang dan tanggung jawab. Islam mengajarkan keluarga dibangun dengan cinta, tetapi cinta yang dibimbing oleh wahyu. Orang tua tidak cukup hanya mencintai anak-anaknya, tetapi juga berkewajiban membimbing mereka menuju keselamatan akhirat.
Syekh Muhammad Ali ash-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan bahwa menjaga keluarga berarti mengingatkan mereka kepada Allah, mengajarkan kewajiban agama, mendidik mereka dengan adab syariat, dan membiasakan mereka menaati Allah. Dengan kata lain, kasih sayang yang sejati selalu menghadirkan pendidikan.
Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menegaskan luasnya amanah seorang pemimpin, termasuk seorang ayah dan ibu dalam rumah tangga. Kepemimpinan keluarga bukanlah simbol kehormatan semata, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Namun, amanah ini tidak boleh dipahami sebagai beban yang melahirkan kecemasan berlebihan. Ia justru menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:
فَاقِدُ الشَّيْءِ لَا يُعْطِيهِ
“Orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak dapat memberikannya.”
Karena itulah, memperbaiki keluarga selalu dimulai dari memperbaiki diri sendiri. Keteladanan adalah bahasa pendidikan yang paling mudah dipahami oleh anak-anak.
Menjadikan Rumah sebagai Jalan Menuju Surga
Pada akhirnya, seluruh pilar tarbiyah keluarga mengajarkan satu visi yang sangat indah: menjadikan rumah sebagai tempat saling menolong menuju ridha Allah. Rumah bukan hanya tempat berkumpul karena hubungan darah, tetapi tempat tumbuhnya iman, ilmu, adab, dan doa.
Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi at-Tafsir menjelaskan bahwa keluarga yang dibangun di atas keimanan akan melahirkan generasi yang memiliki hati yang bersih dan istiqamah dalam ketaatan. Mereka tidak bergantung kepada kuat atau lemahnya lingkungan, tetapi menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya.
Karena itu, jangan pernah merasa terlambat untuk memulai. Bila hari ini kita menyadari masih banyak kekurangan dalam keluarga, maka hari ini pula adalah waktu terbaik untuk memperbaikinya. Mulailah dengan salat berjamaah di rumah, membaca Al-Qur’an bersama, saling mendoakan, menghadirkan majelis ilmu, dan membangun budaya saling menasihati dengan kelembutan.
Semoga Allah SWT menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai keluarga yang senantiasa berada dalam naungan hidayah-Nya, dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta dipertemukan kembali di surga-Nya bersama orang-orang yang beriman. Sebagaimana doa yang diajarkan Al-Qur’an:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).
Semoga doa itu menjadi penutup sekaligus awal dari komitmen kita untuk terus menjaga “Benteng Cahaya” di dalam rumah, hingga Allah mempertemukan kita kembali sebagai satu keluarga di surga-Nya yang abadi. (im)







