Membangun Budaya Keluarga

by -1528 Views

Sebuah keluarga tidak hanya dibentuk oleh orang-orang yang tinggal dibawah satu atap. Keluarga dibentuk oleh nilai-nilai yang terus diulang, kebiasaan yang terus dipraktikkan, dan sikap yang akhirnya menjadi karakter bersama.

Upaya membangun keluarga Qur’ani tidak cukup dengan mengajarkan sejumlah pengetahuan agama kepada anak. Tidak cukup pula dengan meminta anggota keluarga melakukan sejumlah ibadah. Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam itu berubah menjadi budaya keluarga.

Budaya keluarga adalah suasana yang dirasakan oleh seluruh penghuni rumah. Ia tampak dalam cara keluarga berbicara, beribadah, belajar, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, menghormati orang lain, dan saling membantu.

Jika rumah memiliki budaya ibadah, anak akan tumbuh melihat ibadah sebagai sesuatu yang alamiah. Jika rumah memiliki budaya ilmu, anak akan tumbuh dengan rasa ingin tahu. Jika rumah memiliki budaya hormat, anak akan belajar menjaga martabat orang lain. Jika rumah memiliki budaya melayani, anak akan memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang dapat ia terima, tetapi juga apa yang dapat ia berikan.

Inilah yang membedakan antara rumah yang hanya dihuni oleh keluarga Muslim dan rumah yang benar-benar hidup dengan nilai-nilai Islam.

Rumah Qur’ani bukan hanya rumah yang memiliki Al-Qur’an di dalamnya, tetapi rumah yang nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam perilaku para penghuninya.

Tradisi Ibadah: Menghidupkan Ruh di Dalam Rumah

Benteng keluarga Qur’ani tidak dibangun pertama-tama dengan kekayaan, rumah yang luas, atau fasilitas yang lengkap. Benteng itu dibangun dengan hubungan yang kuat kepada Allah SWT.

Tradisi pertama yang harus dihidupkan dalam keluarga adalah tradisi ibadah. Ibadah bukan sekadar aktivitas individual. Dalam keluarga, ibadah dapat menjadi perekat yang menyatukan hati.

Ketika ayah dan ibu menjaga shalat, anak-anak melihat bahwa shalat bukan sekadar kewajiban yang diperintahkan kepada mereka, tetapi kebutuhan yang dijaga oleh orang tuanya.

Ketika keluarga terbiasa membaca Al-Qur’an, anak belajar bahwa Al-Qur’an bukan buku yang hanya dibaca ketika ada tugas sekolah atau acara tertentu.

Ketika keluarga terbiasa berzikir, berdoa, dan mengingat Allah, rumah memperoleh suasana spiritual yang berbeda.

Inilah pelaksanaan nyata dari perintah Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”  (QS. At-Taḥrīm: 6)

Ayat ini memberikan gambaran bahwa keselamatan keluarga tidak boleh diserahkan begitu saja kepada keadaan. Ada tanggung jawab aktif untuk menjaga dan membimbing mereka.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. memberikan penjelasan yang sangat ringkas tetapi mendalam mengenai perintah tersebut: “Ajarilah mereka (keluargamu) kebaikan.”

Maka, menjaga keluarga dari api neraka bukan hanya berarti melarang anak melakukan keburukan. Lebih jauh dari itu, orang tua harus mengisi kehidupan anak dengan kebaikan.

Anak perlu diperkenalkan kepada Allah sebelum ia terlalu banyak mengenal dunia. Ia perlu mengenal shalat sebelum terlalu sibuk dengan berbagai hiburan. Ia perlu merasakan manisnya membaca Al-Qur’an sebelum hatinya dipenuhi oleh berbagai suara yang datang dari dunia digital.

Ibadah sebagai identitas keluarga

Keluarga Qur’ani perlu memiliki identitas ibadah yang jelas.

Misalnya, keluarga memiliki kebiasaan shalat berjamaah ketika memungkinkan, membaca Al-Qur’an bersama, berdoa sebelum tidur, menghidupkan zikir pagi dan petang, atau memiliki waktu khusus untuk melakukan ibadah bersama.

Tidak semua keluarga harus memiliki pola yang persis sama. Hal yang terpenting adalah adanya ritme spiritual yang konsisten. Sebab, karakter tidak dibentuk oleh aktivitas yang dilakukan sekali-sekali. Karakter dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Jika ibadah hanya muncul ketika suasana sedang baik, maka anak akan belajar bahwa agama adalah sesuatu yang situasional.

Tetapi jika ibadah tetap hidup ketika keluarga sedang sibuk, menghadapi masalah, atau mengalami kesulitan, anak belajar sebuah pelajaran yang jauh lebih dalam: Allah selalu menjadi pusat kehidupan.

Inilah yang membangun Bait Mu’min, rumah tangga mukmin yang menjadi unit terkecil dari masyarakat yang saleh.

Rumah seperti ini tidak berarti rumah tanpa masalah. Namun ketika masalah datang, para penghuninya memiliki tempat kembali: Allah SWT. Mereka dapat menangis dalam doa. Mereka dapat memohon pertolongan melalui shalat. Mereka dapat menemukan ketenangan melalui Al-Qur’an.

Dengan demikian, rumah dipenuhi oleh tiga atmosfer yang menjadi tujuan besar kehidupan keluarga: sakan, mawaddah, dan rahmah—ketenangan, cinta, dan kasih sayang.

Ibadah yang hidup akan melahirkan ketenangan. Ketenangan akan memudahkan cinta tumbuh. Dan cinta yang disandarkan kepada Allah akan melahirkan kasih sayang yang lebih luas.

Tradisi Belajar: Rumah yang Tidak Pernah Berhenti Bertumbuh

Keluarga yang sehat bukan hanya keluarga yang bertambah usia, tetapi keluarga yang terus bertumbuh. Dan pertumbuhan membutuhkan ilmu.

Karena itu, keluarga Qur’ani perlu membangun tradisi belajar.

Islam tidak mengenal pendidikan yang berhenti setelah seseorang memperoleh ijazah. Belajar adalah proses sepanjang kehidupan. Terlebih dalam keluarga, kebutuhan terhadap ilmu justru semakin besar setelah seseorang menikah.

Seorang laki-laki membutuhkan ilmu untuk memahami amanah sebagai suami dan ayah. Seorang perempuan membutuhkan ilmu untuk memahami amanah sebagai istri dan ibu. Keduanya membutuhkan ilmu untuk mendidik anak, mengelola rumah tangga, menyelesaikan konflik, memahami perkembangan zaman, dan menjaga keluarga dari berbagai fitnah.

Orang tua memiliki tanggung jawab pendidikan yang luas, mencakup dimensi: “ruhani dengan menanamkan iman, akal dengan pendidikan dan budaya, serta akhlak dengan nilai-nilai luhur.” Artinya, pendidikan keluarga tidak boleh hanya berorientasi pada kecerdasan akademik.

Anak yang cerdas tetapi tidak memiliki iman dapat menggunakan kecerdasannya untuk sesuatu yang salah. Anak yang memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak memiliki adab dapat menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain. Karena itu, tradisi belajar dalam keluarga harus menyatukan iman, ilmu, dan akhlak.

Tradisi Saling Menghormati: Menjaga Martabat di Dalam Rumah

Ada rumah yang tampak tenang dari luar tetapi penuh dengan penghinaan di dalamnya. Ada keluarga yang sangat sopan ketika berbicara kepada orang lain tetapi kasar kepada orang-orang terdekatnya.

Ini adalah paradoks yang harus dihindari oleh keluarga Qur’ani.

Islam menghendaki agar rumah menjadi tempat pertama bagi manusia belajar tentang kemuliaan manusia. Karena itu, tradisi ketiga yang harus dibangun adalah saling menghormati.

Salah satu bentuk penghormatan paling agung dalam Islam adalah birrul wālidayn, berbakti kepada kedua orang tua.

Al-Qur’an bahkan memberikan bimbingan yang sangat halus dalam persoalan ini.

Allah SWT berfirman:

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

“Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia (qaulan karīmā).” (QS Al-Isra’: 23)

Perhatikan betapa detailnya Al-Qur’an menjaga perasaan orang tua. Bukan hanya larangan memukul. Bukan hanya larangan mencaci. Bahkan ucapan pendek yang menunjukkan kejengkelan pun dilarang.

Hal ini menunjukkan bahwa adab keluarga dibangun dari hal-hal yang tampaknya kecil. Nada suara. Ekspresi wajah. Pilihan kata. Cara memanggil. Cara menjawab. Cara memberikan kritik. Semua itu merupakan bagian dari budaya keluarga.

Jika anak tumbuh dalam rumah yang penuh penghormatan, ia akan belajar menghormati. Jika anak melihat ayah menghormati ibu, ia belajar bagaimana seorang laki-laki memperlakukan perempuan. Jika anak melihat ibu menghormati ayah, ia belajar bagaimana seorang perempuan menghargai pasangan. Jika anak melihat orang tua menghormati kakek dan neneknya, ia belajar bahwa usia dan jasa harus dihargai.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.