Penutup: Menjadi Keluarga yang Dilindungi Allah

by -1580 Views

Benteng keluarga Qur’ani tidak pernah dibangun hanya dengan kekuatan manusia. Kita boleh memilih pasangan dengan penuh pertimbangan, menyusun pendidikan anak dengan sebaik-baiknya, mengatur komunikasi, membangun budaya keluarga, dan berusaha menjaga anggota keluarga dari berbagai ancaman zaman. Namun pada akhirnya, hati manusia berada dalam genggaman Allah.

Karena itu, setelah seluruh ikhtiar dilakukan, keluarga mukmin harus kembali kepada Allah dengan doa, dzikir, tawakal, dan istiqamah.

Inilah keseimbangan yang penting dalam membangun keluarga Qur’ani. Kita tidak boleh pasif dengan alasan tawakal. Sebaliknya, kita juga tidak boleh merasa bahwa keselamatan keluarga sepenuhnya berada di tangan kemampuan kita. Ikhtiar adalah kewajiban manusia, sedangkan perlindungan sejati adalah karunia Allah.

Keluarga yang menyadari hal ini akan memiliki kerendahan hati. Ia tidak merasa aman hanya karena telah memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya. Ia terus berdoa agar ilmu menjadi hidayah, agar nasihat menjadi amal, agar keteladanan diterima, dan agar seluruh anggota keluarga tetap istiqamah sampai akhir kehidupan.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Keluarga yang ingin mendapatkan perlindungan Allah harus terus bergerak di jalan kebaikan. Ia membangun bentengnya dengan ilmu, ibadah, kasih sayang, keteladanan, dan penjagaan fitrah; kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Doa-Doa Keluarga

Ada banyak hal dalam kehidupan keluarga yang tidak dapat kita kendalikan.

Kita tidak dapat memastikan seperti apa lingkungan pergaulan anak-anak ketika mereka tumbuh dewasa. Kita tidak dapat mengetahui seluruh pemikiran yang mereka jumpai di sekolah, kampus, tempat kerja, media sosial, maupun ruang digital. Kita juga tidak dapat memastikan bahwa mereka akan selalu mengambil keputusan yang benar.

Bahkan hati anak-anak kita sendiri bukan milik kita. Karena itu, pendidikan keluarga harus selalu berjalan beriringan dengan doa.

Doa bukan tanda kelemahan. Doa adalah pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan Allah memiliki kekuasaan yang tidak terbatas.

Rasulullah SAW memberikan prinsip yang sangat mendasar kepada Abdullah bin Abbas r.a. dalam hadis yang dimuat dalam Riyadh ash-Shalihin:

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”

Pesan ini mengajarkan sebuah hukum kehidupan yang sangat penting: perlindungan Allah tidak boleh dipisahkan dari ketaatan kepada-Nya.

“Menjaga Allah” bukan berarti menjaga Allah dalam pengertian yang bersifat fisik—Mahasuci Allah dari segala sifat demikian. Maksudnya adalah menjaga batas-batas syariat-Nya, menjaga perintah-Nya, menjaga larangan-Nya, dan menjaga hubungan kita dengan-Nya.

Maka orang tua tidak cukup hanya berdoa: “Ya Allah, jadikan anakku saleh.” Ia juga harus berusaha membangun suasana yang membantu anak menjadi saleh.

Tidak cukup hanya berkata: “Ya Allah, lindungi keluargaku dari kemaksiatan.” Ia juga harus menutup pintu-pintu kemaksiatan yang dapat masuk ke dalam rumah.

Doa dan ikhtiar harus berjalan bersama.

Dzikir Rumah

Rumah memiliki kehidupan spiritual sebagaimana manusia. Ada rumah yang secara fisik sangat megah, tetapi penghuninya merasa kosong. Ada pula rumah yang sederhana, tetapi terasa hangat, tenteram, dan penuh kedamaian.

Salah satu pembeda utamanya adalah hubungan rumah tersebut dengan Allah.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Al-Wābil ash-Shayyib mengutip perumpamaan yang sangat indah: “Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dengan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”

Perumpamaan ini sangat kuat.

Rumah yang hidup bukan sekadar rumah yang penuh aktivitas. Rumah yang hidup adalah rumah yang dihidupkan oleh iman.

Di dalamnya terdengar salam ketika anggota keluarga masuk. Terdengar basmalah ketika makan. Terdengar doa ketika hendak tidur. Terdengar bacaan Al-Qur’an. Terdengar nasihat dengan kelembutan. Terdengar istighfar ketika melakukan kesalahan. Dan yang paling penting, di dalam rumah tersebut nama Allah tidak menjadi sesuatu yang asing.

Tawakal

Tawakal seringkali disalahpahami. Ada orang yang mengatakan, “Kita tawakal saja,” tetapi tidak melakukan usaha.

Padahal tawakal bukan meninggalkan ikhtiar. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan usaha yang benar.

Orang tua memilih pasangan dengan pertimbangan agama. Mendidik anak dengan ilmu. Membangun komunikasi. Mengawasi pergaulan. Membatasi penggunaan teknologi. Mengajarkan ibadah. Membangun budaya belajar.

Semua itu adalah ikhtiar.

Setelah itu, hati tidak boleh bergantung kepada ikhtiar tersebut. Hati harus bergantung kepada Allah.

Menjaga Istiqamah

Salah satu kesalahan dalam membangun keluarga Qur’ani adalah menginginkan perubahan yang terlalu cepat.

Hari ini keluarga sangat bersemangat. Semua ingin membaca Al-Qur’an. Semua ingin shalat berjamaah. Semua ingin belajar. Semua ingin bangun malam.

Tetapi beberapa minggu kemudian, semangat itu hilang. Mengapa? Karena keluarga tersebut membangun kebiasaan berdasarkan emosi, bukan berdasarkan istiqamah.

Padahal Allah tidak hanya melihat seberapa besar semangat kita pada suatu hari. Allah menghendaki keteguhan kita dalam perjalanan.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu sedih.’”

Istiqamah berarti tetap berdiri. Tetapi bukan berarti tidak pernah jatuh. Bukan berarti tidak pernah lelah. Bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan.

Istiqamah berarti ketika jatuh, seseorang kembali. Ketika lemah, ia menguatkan diri. Ketika lalai, ia segera bertaubat. Ketika semangat menurun, ia tetap mempertahankan amal meskipun sedikit.

Keluarga yang Berjalan Menuju Perlindungan Allah

Membangun benteng keluarga Qur’ani adalah sebuah jihad peradaban. Ia bukan pekerjaan sehari atau setahun. Ia adalah perjalanan sepanjang kehidupan.

Kita memulainya dengan memilih pasangan yang baik. Kita membangunnya dengan iman. Kita menjaganya dengan al-wiqāyah—perlindungan dari berbagai ancaman. Kita menguatkannya dengan at-tarbawiyyah—pendidikan yang berlangsung terus-menerus. Kita menyempurnakannya dengan al-juz’iyyah—pembinaan setiap individu sesuai dengan fitrah, kebutuhan, dan potensinya.

Kemudian kita menjaganya dengan doa. Menghidupkannya dengan dzikir. Menguatkannya dengan tawakal. Dan mempertahankannya dengan istiqamah.

Inilah keluarga Qur’ani.

Bukan keluarga yang tidak pernah memiliki masalah. Bukan keluarga yang seluruh anggotanya sempurna. Bukan pula keluarga yang tidak pernah mengalami konflik.

Keluarga Qur’ani adalah keluarga yang ketika menghadapi masalah, ia kembali kepada Allah. Ketika salah, ia bertaubat. Ketika berbeda, ia bermusyawarah. Ketika lemah, ia saling menguatkan. Ketika menghadapi fitnah, ia saling menjaga. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Dan ketika menghadapi ketidakpastian masa depan, ia bertawakal.

Keluarga yang dilindungi Allah bukan berarti keluarga yang terbebas dari ujian. Justru bisa jadi ujian tetap datang. Perbedaannya adalah: mereka tidak menghadapi ujian seorang diri. Mereka memiliki iman, ilmu dan cinta.  Mereka memiliki satu sama lain.

Diatas semua itu, mereka memiliki Allah. Karena itu, keluarga harus terus menjaga hubungan dengan-Nya.

Inilah benteng keluarga Qur’ani.

Benteng yang tidak dibangun dari batu dan besi, tetapi dari iman, ilmu, akhlak, cinta, keteladanan, doa, dan istiqamah.

Semoga Allah menjaga keluarga-keluarga kita. Menjaga iman para suami. Menjaga kehormatan para istri. Menjaga fitrah anak-anak. Menjaga rumah-rumah kita dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi. Menghidupkan rumah kita dengan Al-Qur’an dan dzikir. Memberikan kepada kita pasangan dan keturunan yang menjadi qurrata a’yun.

Dan pada akhirnya, mempertemukan kita kembali sebagai keluarga di tempat yang tidak ada lagi perpisahan: di dalam rahmat Allah dan surga-Nya. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.