Meraih Sakinah: Ketenangan Datang dari Allah, Bukan dari Dunia

by -1389 Views

Pada hakikatnya, seluruh manusia sedang mencari satu hal yang sama: ketenangan hidup.

Ada yang mencarinya melalui harta. Ada yang mengejarnya lewat jabatan, popularitas, rumah besar, kendaraan mewah, atau status sosial. Bahkan tidak sedikit yang rela menghabiskan usia demi memburu sesuatu yang mereka kira akan menghadirkan kebahagiaan.

Namun realitas kehidupan sering memberikan pelajaran yang berbeda.

Banyak orang memiliki fasilitas lengkap, tetapi tidak bisa tidur nyenyak. Rumahnya luas, tetapi suasananya dingin. Rekeningnya penuh, tetapi hatinya kosong. Diluar tampak tersenyum, tetapi di dalam dipenuhi kecemasan.

Mengapa?

Karena ketenangan bukan barang yang bisa dibeli. Ia bukan hasil teknologi, bukan produk kekayaan, dan bukan semata hasil rekayasa manusia.

Dalam Al-Qur’an, ketenangan disebut dengan istilah sakinah (السَّكِينَة).

Kata ini berasal dari akar kata سكن (sakana) yang berarti diam, tenang, menetap, atau tenteram. Dalam penjelasan Al-Raghib al-Asfahani dalam Mufradat Alfazh al-Qur’an, sakinah adalah ketenangan yang Allah turunkan ke dalam hati sehingga hati menjadi kokoh dan tidak mudah guncang.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
“Dialah Allah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman.”
(QS. Al-Fath: 4)

Dalam Tafsir Ibn Kathir, Ibn Kathir menjelaskan bahwa sakinah adalah ketenteraman, keyakinan, dan kekuatan hati yang Allah anugerahkan kepada orang beriman ketika menghadapi kegelisahan dan ujian.

Perhatikan kalimat ayat tadi: أَنْزَلَ السَّكِينَةَ — “Allah menurunkan ketenangan.”

Artinya, sakinah bukan dicari semata-mata di bumi, tetapi diturunkan dari langit.

Mengapa Dunia Tidak Pernah Cukup Menenangkan?

Islam tidak melarang manusia memiliki harta, rumah bagus, atau karier yang baik. Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menjadi kuat dan bermanfaat.

Namun Islam juga mengingatkan: dunia bukan sumber utama ketenangan.

Ada kaidah Arab yang indah:

مَنْ جَعَلَ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّهِ لَمْ يَزَلْ فِي قَلَقٍ
“Siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan terbesarnya, ia akan terus hidup dalam kegelisahan.”

Mengapa? Karena dunia sifatnya berubah.

Harta bisa berkurang. Jabatan bisa hilang. Popularitas bisa turun. Bahkan manusia yang kita cintai pun tidak selamanya bersama kita.

Maka jika hati digantungkan sepenuhnya kepada dunia, hati akan ikut goyah bersama perubahan dunia itu sendiri.

Ibarat seseorang yang bersandar pada ranting kecil, ia akan mudah jatuh ketika ranting itu patah.

Karena itu Allah mengingatkan:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Dalam Tafsir Al-Qurtubi, Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan ketenangan sejati tidak lahir dari materi, tetapi dari hubungan hati dengan Allah.

Itulah sebabnya ada orang sederhana tetapi hidupnya damai. Sebaliknya ada orang kaya, tetapi jiwanya selalu lelah.

Sumber tenangnya berbeda.

Sakinah dalam Keluarga: Dibangun dengan Iman

Dalam kehidupan keluarga, banyak orang mengira sakinah lahir semata dari kecukupan materi. Padahal rumah tangga bukan hanya tempat tinggal jasad, tetapi juga tempat berteduhnya jiwa.

Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan untukmu agar kamu memperoleh ketenangan padanya.” (QS. Ar-Rum: 21)

Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, kata لِّتَسْكُنُوا menunjukkan bahwa tujuan besar pernikahan adalah menghadirkan ketenteraman jiwa, bukan sekadar hubungan biologis atau ekonomi.

Karena itu, keluarga sakinah dibangun dengan iman, komunikasi yang lembut, saling menghormati, dan kedekatan kepada Allah.

Bukan hanya dengan desain rumah yang indah.

Sering kali anak-anak tidak terlalu membutuhkan rumah mewah. Mereka lebih membutuhkan ayah yang tenang, ibu yang lembut, dan suasana rumah yang penuh dzikir dan kasih sayang.

Sakinah memang tidak terlihat oleh mata, tetapi pengaruhnya terasa dalam seluruh kehidupan.

Maka jika hari ini hati terasa gelisah, jangan hanya sibuk memperbaiki dunia di sekitar kita. Perbaiki juga hubungan kita dengan Allah.Karena sakinah sejati bukan hasil memiliki segalanya, tetapi hasil dekat dengan Pemilik segalanya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.