Alhamdulillah, perjalanan kita dalam membahas posisi ulama, madzhab, dan adab beragama telah sampai pada penghujungnya.
Dari awal hingga akhir pembahasan, kita menemukan satu pelajaran besar bahwa memahami Islam bukan hanya persoalan memiliki dalil, tetapi juga persoalan memahami dalil dengan metodologi yang benar.
Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber utama ajaran Islam. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama ushul fiqih seperti Syaikh Abdul Karim Zaidan dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili, pemahaman terhadap kedua sumber tersebut memerlukan perangkat ilmu yang tidak sederhana. Karena itulah Allah menghadirkan para ulama sebagai pewaris ilmu kenabian yang membantu umat memahami wahyu secara benar dan proporsional.
Syaikh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah telah memberikan petunjuk yang sangat jelas bagi manusia. Namun petunjuk tersebut memerlukan pemahaman yang benar agar tidak berubah menjadi penafsiran yang dipengaruhi hawa nafsu atau keterbatasan ilmu manusia.
Dengan demikian, bermadzhab dan merujuk kepada ulama bukanlah penghalang untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi justru salah satu jalan yang paling aman untuk sampai kepada keduanya.
Tawadhu’: Mahkota Penuntut Ilmu
Diantara pelajaran terpenting yang dapat dipetik dari perjalanan ini adalah pentingnya tawadhu’ dalam menuntut ilmu. Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar kesadarannya akan keterbatasan dirinya.
Allah SWT berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)
Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri diperintahkan untuk terus meminta tambahan ilmu. Jika Rasulullah ﷺ diperintahkan demikian, maka terlebih lagi kita yang penuh keterbatasan.
Sikap ini tercermin dalam ungkapan Syaikh Yusuf al-Qaradawi:
لَا أَدَّعِي الْعِصْمَةَ لِمَا كَتَبْتُ، وَلَا أَزْعُمُ أَنِّي أَعْلَمُ مِنْ غَيْرِي
“Saya tidak mengklaim kemaksuman atas apa yang saya tulis, dan tidak menganggap diri saya lebih mengetahui daripada orang lain.”
Inilah akhlak ulama sejati: semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya.
Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan Fikih
Salah satu tujuan penting pembahasan tentang madzhab adalah agar umat mampu menyikapi perbedaan dengan bijaksana. Perbedaan ijtihad telah ada sejak masa para sahabat dan akan terus ada selama manusia berusaha memahami wahyu.
Karena itu, para ulama mengajarkan adab yang luhur dalam menghadapi khilafiyah. Imam Hasan al-Banna menghidupkan kembali sebuah prinsip yang sangat berharga:
نَتَعَاوَنُ فِيمَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ، وَيَعْذِرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيمَا اخْتَلَفْنَا فِيهِ
“Kita saling bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling memberikan uzur dalam perkara yang kita perselisihkan.”
Allah SWT juga mengingatkan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)
Menurut Imam ath-Thabari dan Imam al-Qurthubi, ayat ini menegaskan bahwa perselisihan yang melahirkan permusuhan merupakan sebab hilangnya kekuatan umat.
Meneladani Para Imam dan Ulama
Para imam madzhab telah memberikan teladan yang sangat indah dalam menyikapi perbedaan. Mereka berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati. Mereka mempertahankan argumentasi ilmiah, tetapi tidak kehilangan adab dan kasih sayang.
Ibnu Taimiyah dalam Raf’ul Malam ‘an al-A’immatil A’lam mengingatkan bahwa seorang imam yang diterima umat tidak mungkin sengaja menentang Al-Qur’an dan Sunnah. Jika terjadi kekeliruan, maka hal itu lahir dari proses ijtihad yang tetap mendapatkan pahala di sisi Allah.
Karena itu, meneladani ulama tidak cukup dengan menghafal fatwa-fatwa mereka. Yang lebih penting adalah meneladani keikhlasan, keluasan ilmu, kelapangan dada, dan akhlak mereka dalam menghadapi perbedaan.
Pesan untuk Generasi Muslim Masa Kini
Di era media sosial, setiap orang dapat berbicara tentang agama. Namun tidak setiap orang memiliki kompetensi untuk menjelaskan agama. Karena itu, generasi Muslim hari ini perlu lebih banyak belajar daripada berdebat, lebih banyak membaca daripada menghakimi, dan lebih banyak memperbaiki diri daripada mencari kesalahan orang lain.
Imam Hasan al-Banna mengingatkan:
كُلُّ مَسْأَلَةٍ لَا يَنْبَنِي عَلَيْهَا عَمَلٌ فَالْخَوْضُ فِيهَا مِنَ التَّكَلُّفِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ شَرْعًا
“Setiap masalah yang tidak melahirkan amal, maka mendalami perdebatan di dalamnya termasuk bentuk takalluf yang dilarang oleh syariat.”
Maka jadilah generasi yang membangun, bukan generasi yang sibuk mempertajam perpecahan.
Doa dan Harapan
Sebagai penutup, marilah kita memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, dan persatuan yang kokoh.
Sebagaimana doa yang diajarkan Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 10:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Semoga Allah menjadikan kita umat yang mencintai ilmu, menghormati ulama, menjaga persaudaraan, dan istiqamah meniti jalan keselamatan bersama para pewaris nabi. Aamiin. (im)








