Memahami Ulang Makna “Lihat Apa yang Dikatakan, Jangan Lihat Siapa yang Mengatakan”

by -1555 Views

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak berdiri sendiri sebagai kumpulan informasi, tetapi sebagai amanah yang diwariskan melalui sanad keilmuan. 

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam حلية طالب العلم menegaskan:

“العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم”
“Ilmu itu adalah agama, maka perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Prinsip ini menjadi dasar penting bahwa dalam Islam, tidak semua sumber setara dalam proses belajar.

Redaksi Populer dan Akar Maknanya

Ungkapan yang sering beredar di masyarakat: “Unzhur ila ma qila wa la tanzhur ila man qala” (lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan) memang tampak sederhana dan bijak. 

Namun para ulama menjelaskan bahwa makna ini tidak boleh dilepaskan dari disiplin ilmu syar’i.

Muhammad bin Sirin — sebagaimana dinukil dalam kitab-kitab adab al-‘ilm — berkata:

“إن هذا العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم”

Imam Ibn Sirin menegaskan bahwa standar utama dalam menerima ilmu adalah siapa yang menyampaikan, bukan hanya apa yang disampaikan.

Penelusuran Ilmu: Talaqqi dan Otoritas Guru

Dalam tradisi Islam, ilmu diperoleh melalui talaqqi (penerimaan langsung dari guru), bukan sekadar membaca teks. Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan:

“الأصل في طلب العلم أن يؤخذ عن أفواه الشيوخ لا من بطون الكتب”
“Asal dalam menuntut ilmu adalah diambil dari lisan para guru, bukan dari perut buku.”

Imam Al-Auza’i juga memperingatkan:

“كان هذا العلم شريفًا إذ كان يُتلقّى من أفواه الرجال…”
“Ilmu ini mulia ketika diambil dari lisan para ulama…”

Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya soal informasi, tetapi juga metode dan bimbingan.

Makna yang Benar: Substansi dan Kredibilitas

Para ulama membedakan antara menerima kebenaran informasi dan proses belajar ilmu. Kebenaran bisa datang dari siapa saja, tetapi ilmu syar’i harus diambil dari ahlinya.

Syaikh Bakr Abu Zaid menegaskan pentingnya adab kepada guru:

“رعاية الشيخ مفتاح الفلاح”
“Menghormati guru adalah kunci keberhasilan.”

Dalam kerangka ini, “melihat apa yang dikatakan” tidak meniadakan “melihat siapa yang berkata”, tetapi menyeimbangkan keduanya sesuai konteks.

Makna yang Sering Disalahpahami

Kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan slogan ini sebagai legitimasi untuk mengambil ilmu dari siapa saja tanpa memperhatikan kompetensi dan akidah. Padahal Imam Malik رحمه الله menegaskan:

“لا يؤخذ العلم عن أربعة…”
“Ilmu tidak diambil dari empat golongan…”
(salah satunya adalah ahli bid’ah yang mengikuti hawa nafsu)

Syaikh Bakr Abu Zaid juga memperingatkan bahaya mengambil ilmu dari orang yang tidak memiliki kelayakan ilmiah, karena hal itu dapat merusak pemahaman agama.

Penutup: Keseimbangan dalam Menerima Ilmu

Dengan demikian, slogan “lihat apa yang dikatakan” harus dipahami secara proporsional. Islam tidak mengajarkan penolakan terhadap kebenaran dari siapa pun, tetapi juga tidak membiarkan ilmu diambil tanpa disiplin keilmuan.

Keseimbangannya adalah:

  • Kebenaran dinilai dari dalilnya
  • Ilmu diambil dari ahlinya
  • Adab menjaga keduanya secara bersamaan

Sebagaimana kaidah ulama:

“الحكمة ضالة المؤمن”
“Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman.”

Namun pencarian hikmah itu tetap harus melalui jalan yang benar agar ilmu yang diperoleh tidak hanya benar secara isi, tetapi juga benar secara sumber dan keberkahan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.