Pilar Kesalehan Pribadi: Memulai Tarbiyah Keluarga dari Perbaikan Diri

by -1525 Views

Dalam perjalanan membangun keluarga Qur’ani, ada satu prinsip penting yang sering luput kita perhatikan: perubahan keluarga selalu dimulai dari perubahan pribadi.

Sebuah rumah tidak menjadi teduh hanya karena memiliki bangunan yang indah. Rumah menjadi tempat yang nyaman karena ada cahaya di dalamnya. Demikian pula keluarga. 

Kehangatan keluarga tidak hanya dibangun dengan fasilitas, tetapi dengan hadirnya pribadi-pribadi yang memiliki iman, ketakwaan, dan akhlak yang baik.

Karena itu, ketika Allah سبحانه وتعالى memberikan panduan tentang tanggung jawab keluarga dalam Surat At-Tahrim ayat 6, Allah meletakkan urutan yang sangat mendalam:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)

Perhatikan susunan ayat ini. Allah menyebutkan:

قُوا أَنفُسَكُمْ
“Peliharalah dirimu.”

baru kemudian:

وَأَهْلِيكُمْ
“Dan keluargamu.”

Urutan ini bukan tanpa hikmah. Dalam pendidikan Islam, ada sebuah kaidah:

فَاقِدُ الشَّيْءِ لَا يُعْطِيهِ
“Seseorang yang tidak memiliki sesuatu, tidak akan mampu memberikan sesuatu itu kepada orang lain.”

Seseorang yang ingin memberikan cahaya kepada keluarganya harus terlebih dahulu memiliki cahaya dalam dirinya.

Seorang ayah yang ingin anaknya mencintai Al-Qur’an harus terlebih dahulu memiliki hubungan yang dekat dengan Al-Qur’an. Seorang ibu yang ingin anaknya memiliki kelembutan hati harus terlebih dahulu menghadirkan kelembutan dalam perilakunya.

Inilah pilar pertama dalam tarbiyah keluarga: kesalehan pribadi.

Kesalehan Pribadi adalah Benteng Pertama dari Api Neraka

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir ketika menjelaskan ayat ini menerangkan bahwa makna menjaga diri adalah membangun penghalang antara manusia dengan api neraka melalui ketaatan kepada Allah.

Beliau menjelaskan:

“Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, jadikanlah antara kalian dan api neraka itu sebuah penghalang (benteng) dengan cara menaati Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya.”

Makna “menjaga diri” bukan hanya menghindarkan diri dari dosa besar, tetapi juga membangun kehidupan yang selalu berada dalam orientasi ketaatan.

Seorang mukmin menjaga dirinya dengan:

  • memperbaiki hubungan dengan Allah,
  • menjaga ibadah,
  • memperhatikan halal dan haram,
  • membersihkan hati,
  • serta segera kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan.

Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri dalam Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Ali Al-Kabir menjelaskan bahwa menjaga diri dilakukan dengan tiga langkah:

“Peliharalah diri kalian dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, serta bertaubat dari apa yang telah kalian lakukan berupa dosa dan pelanggaran.”

Ada pelajaran penting dari penjelasan ini. Kesalehan bukan berarti seseorang tidak pernah salah. Kesalehan adalah kemampuan seorang hamba untuk selalu kembali kepada Allah.

Manusia bisa jatuh, tetapi seorang mukmin tidak membiarkan dirinya terus berada dalam kejatuhan. Ia memperbaiki diri, memohon ampun, dan melanjutkan perjalanan menuju Allah.

Membersihkan Jiwa: Jalan Menuju Pribadi Rabbani

Dalam tradisi tarbiyah Islam, proses memperbaiki diri dikenal dengan istilah tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam kitab Al-Asas fi At-Tafsir menjelaskan bahwa perjalanan penyucian jiwa memiliki dua tahap:

Pertama: Takhliyah (التخلية)

Takhliyah yaitu mengosongkan jiwa dari berbagai penyakit yang menghalangi kedekatan kepada Allah.

Di antara penyakit hati yang harus dibersihkan adalah:

  • kesombongan,
  • merasa lebih baik dari orang lain,
  • cinta berlebihan kepada dunia,
  • keputusasaan dari rahmat Allah,
  • dan beramal karena ingin dipuji manusia.

Karena terkadang seseorang terlihat baik di hadapan manusia, tetapi masih berjuang melawan penyakit yang tersembunyi dalam hatinya.

Kedua: Tahliyah (التحلية)

Tahliyah yaitu menghiasi jiwa dengan ketaatan dan akhlak mulia.

Seorang mukmin berusaha mengisi dirinya dengan:

  • keikhlasan,
  • kesabaran,
  • tawakal,
  • kasih sayang,
  • dan keyakinan yang kuat kepada Allah.

Syaikh Sa’id Hawwa menjelaskan bahwa tujuan berinteraksi dengan ayat-ayat Allah adalah mengantarkan manusia kepada:

دَرَجَاتِ الْيَقِينِ

“Derajat keyakinan.”

Yaitu kondisi ketika hati seorang mukmin memiliki keyakinan yang kokoh kepada Allah, sehingga tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan dunia.

Pribadi yang memiliki keyakinan kuat akan menjadi sumber ketenangan bagi keluarganya. Ia tidak mudah panik ketika menghadapi ujian, tidak mudah putus asa ketika mengalami kesulitan, dan tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan zaman.

Menjadi Teladan Sebelum Menjadi Pengajar

Pada akhirnya, pendidikan keluarga bukan hanya persoalan menyampaikan nasihat, tetapi menghadirkan contoh nyata.

Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang tua ingin membangun keluarga yang dekat dengan Allah, maka langkah pertama adalah bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah hubungan saya dengan Allah sudah menjadi contoh bagi keluarga?”

Karena rumah yang baik dibangun oleh pribadi-pribadi yang baik.

Seorang ayah yang saleh bukan hanya memberikan nafkah, tetapi menghadirkan ketenangan. Seorang ibu yang salehah bukan hanya merawat rumah, tetapi menanamkan nilai-nilai iman.

Inilah makna mendalam dari firman Allah:

قُوا أَنفُسَكُمْ
“Peliharalah dirimu.”

Sebelum memperbaiki keluarga, perbaikilah diri. Sebelum mengajak orang lain menuju Allah, dekatkanlah diri kita terlebih dahulu kepada Allah.

Sebab keluarga yang bercahaya selalu dimulai dari satu pribadi yang terlebih dahulu menyalakan cahaya dalam dirinya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.