Darajāt al-Yaqīn: Mengokohkan Keyakinan sebagai Pilar Ketahanan Keluarga

by -1451 Views

Pada pembahasan sebelumnya kita telah melihat bahwa tarbiyah keluarga dimulai dari kesalehan pribadi dan dilanjutkan dengan tazkiyatun nafs, yaitu proses menyucikan jiwa agar layak menjadi pembimbing bagi keluarga. 

Setelah hati dibersihkan, muncul pertanyaan berikutnya: apa yang akan menguatkan seseorang agar tetap istiqamah mendidik keluarganya di tengah perubahan zaman?

Jawabannya adalah al-yaqīn, keyakinan yang kokoh kepada Allah.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm [66]: 6)

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, ayat ini merupakan perintah agar setiap mukmin mendidik dirinya dan keluarganya dalam ketaatan kepada Allah sehingga mereka terlindung dari sebab-sebab yang mengantarkan kepada neraka. 

Senada dengan itu, Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsīr al-Munīr menjelaskan bahwa menjaga diri dan keluarga dilakukan dengan membangun ketaatan, menjauhi kemaksiatan, serta membimbing anggota keluarga agar mengenal agama dengan benar.

Perintah tersebut membutuhkan keteguhan hati. Sebab tidak sedikit orang yang memahami kebenaran, tetapi goyah ketika berhadapan dengan tekanan kehidupan. Di sinilah pentingnya membangun darajāt al-yaqīn, yaitu derajat keyakinan yang melahirkan ketenangan sekaligus keteguhan dalam menjalankan amanah.

Dari Logika Materi Menuju Logika Iman

Secara bahasa, yaqīn berarti keyakinan yang tidak bercampur keraguan. Para ulama menjelaskan bahwa keyakinan bukan sekadar mengetahui suatu kebenaran, tetapi menghadirkan kebenaran itu dalam cara berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi at-Tafsīr menjelaskan:

«إِنَّ الْغَايَةَ مِنَ التَّعَامُلِ مَعَ آيَاتِ اللَّهِ هِيَ أَنْ يَبْلُغَ الْإِنْسَانُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ، حَيْثُ لَا تَعُودُ الْعَقِيدَةُ تُزَعْزِعُهَا الشُّبُهَاتُ.»

“Tujuan utama berinteraksi dengan ayat-ayat Allah adalah membawa manusia mencapai derajat keyakinan, yaitu keadaan ketika akidah tidak lagi digoyahkan oleh berbagai keraguan.”

Dalam kehidupan keluarga, keyakinan ini ibarat akar pohon. Semakin dalam akarnya, semakin kuat pohon menghadapi angin. Sebaliknya, akar yang dangkal membuat pohon mudah tumbang meskipun batangnya tampak besar.

Syaikh Sa’id Hawwa memberi pelajaran menarik dari kisah Nabi Zakaria ‘alaihissalām ketika memohon keturunan. Allah berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.'” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 38)

Dalam penjelasannya, beliau menunjukkan bahwa Nabi Zakaria tidak berhenti pada logika biologis—usia yang telah lanjut dan istri yang mandul—tetapi berpindah kepada keyakinan penuh bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Inilah yang dapat disebut sebagai logika iman. Bukan berarti mengabaikan ikhtiar, tetapi menyadari bahwa ikhtiar manusia selalu berada di bawah kekuasaan Allah.

Keyakinan yang Melahirkan Ketahanan Keluarga

Keyakinan yang kokoh akan memengaruhi cara orang tua memandang pendidikan anak. Mereka tidak hanya mengejar keberhasilan akademik atau kemapanan ekonomi, tetapi juga menjadikan iman sebagai prioritas utama.

Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Ṣafwatut Tafāsīr menjelaskan makna menjaga keluarga melalui firman Allah pada QS. At-Taḥrīm ayat 6 sebagai berikut:

«احْفَظُوا أَزْوَاجَكُمْ وَأَوْلَادَكُمْ مِنَ النَّارِ بِتَعْلِيمِهِمْ مَا أَوْجَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ، وَتَأْدِيبِهِمْ بِآدَابِ الشَّرِيعَةِ، وَأَمْرِهِمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ.»

“Peliharalah istri dan anak-anak kalian dari neraka dengan mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama, mendidik mereka dengan adab syariat, serta memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah.”

Demikian pula Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu, sebagaimana dikutip oleh Wahbah az-Zuhaili, memberikan rumusan pendidikan keluarga yang sangat ringkas namun mendalam:

عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ

“Ajarkanlah mereka ilmu dan didiklah mereka dengan adab.”

Keluarga yang dibangun di atas keyakinan seperti ini akan memiliki daya tahan menghadapi perubahan zaman. Mereka mungkin menghadapi ujian ekonomi, perubahan budaya, atau derasnya arus informasi, tetapi arah hidupnya tetap jelas karena kompasnya adalah iman.

Ada sebuah kaidah yang indah:

مَنْ صَحَّ يَقِينُهُ قَوِيَتْ هِمَّتُهُ

“Siapa yang benar keyakinannya, akan kuat semangat perjuangannya.”

Maka, membangun darajāt al-yaqīn bukan hanya kebutuhan pribadi, tetapi kebutuhan seluruh keluarga. Dari keyakinan lahir kesabaran, dari kesabaran tumbuh keteladanan, dan dari keteladanan lahirlah generasi yang tetap teguh meskipun hidup di tengah zaman yang penuh tantangan. 

Dengan demikian, rumah tidak hanya menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya hati-hati yang yakin kepada Allah dan berjalan bersama menuju keselamatan akhirat. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.