Seluruh pilar tarbiyah keluarga yang telah kita bahas—mulai dari tazkiyatun nafs, taklim, tadib, hingga keteladanan—sesungguhnya merupakan bentuk ikhtiar seorang hamba.
Seorang mukmin juga memahami bahwa sebaik apapun ikhtiar manusia, hidayah tetap berada di tangan Allah SWT. Karena itu, pilar berikutnya adalah membangun maqam min ladunka, yaitu kesadaran bahwa keberhasilan mendidik keluarga merupakan karunia yang datang langsung dari sisi Allah.
Kesadaran inilah yang menjadikan seorang ayah atau ibu tetap bersemangat berikhtiar, namun tidak pernah merasa paling mampu. Ia bekerja keras mendidik anak-anaknya, tetapi pada saat yang sama tidak berhenti mengetuk pintu langit dengan doa.
Allah SWT mengabadikan doa Nabi Zakaria a.s. dalam firman-Nya:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.'”
(QS. Ali ‘Imran: 38)
Dalam Tafsir al-Munir, Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ungkapan “مِن لَّدُنكَ” menunjukkan permohonan yang sangat mendalam kepada Allah. Nabi Zakaria tidak sekadar meminta anak, tetapi memohon keturunan saleh yang menjadi karunia khusus dari sisi Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan seorang anak bukan semata hasil pendidikan, melainkan perpaduan antara ikhtiar manusia dan taufik Ilahi.
Ikhtiar Melahirkan Amal, Doa Menghadirkan Taufik
Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi at-Tafsir menjelaskan bahwa seorang mukmin akan mencapai درجة اليقين (darajat al-yaqin) ketika sandaran utamanya berpindah dari sebab-sebab lahiriah menuju kepada Allah sebagai Musabbibul Asbab. Beliau menjelaskan bahwa tujuan interaksi dengan ayat-ayat Allah adalah:
الغاية من التفاعل مع آيات الله الوصول إلى درجة اليقين
“Tujuan berinteraksi dengan ayat-ayat Allah adalah mencapai derajat keyakinan.”
Keyakinan seperti ini sangat dibutuhkan dalam mendidik keluarga. Ada kalanya orang tua telah mengajarkan ilmu agama, memberikan teladan, dan mencurahkan kasih sayang, tetapi hasilnya belum tampak sebagaimana yang diharapkan. Pada saat itulah seorang mukmin tidak berputus asa. Ia memahami bahwa tugasnya adalah menanam, sedangkan yang menumbuhkan hanyalah Allah.
Analogi sederhananya seperti seorang petani. Ia dapat membajak tanah, memilih benih terbaik, dan menyiram tanaman setiap hari. Akan tetapi, ia tidak mampu memerintahkan benih untuk tumbuh. Hanya Allah yang menurunkan hujan, menghidupkan tanah, dan menumbuhkan kehidupan. Demikian pula pendidikan keluarga; ikhtiar adalah kewajiban, sedangkan hidayah adalah anugerah.
Karena itu, para nabi selalu mengiringi pendidikan dengan doa. Nabi Ibrahim a.s. berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan salat, demikian pula sebagian keturunanku.”
(QS. Ibrahim: 40)
Menurut Imam Ibnu Katsir, doa ini menunjukkan bahwa para nabi tidak pernah merasa cukup dengan amal mereka sendiri. Mereka tetap memohon agar Allah menjaga keimanan mereka dan keturunannya hingga akhir hayat.
Rumah yang Dipenuhi Doa adalah Rumah yang Dipenuhi Harapan
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa doa merupakan inti ibadah. Beliau bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud no. 1479, At-Tirmidzi no. 2969; dinilai sahih oleh Imam At-Tirmidzi)
Para ulama hadis menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan doa sebagai bentuk penghambaan yang paling nyata. Seseorang yang berdoa sesungguhnya sedang mengakui kelemahan dirinya sekaligus mengakui kesempurnaan kekuasaan Allah.
Di sinilah maqam min ladunka menemukan maknanya. Rumah tangga tidak hanya dipenuhi diskusi, nasihat, dan pendidikan, tetapi juga dipenuhi doa-doa yang dipanjatkan setelah salat, pada sepertiga malam, dan di setiap kesempatan yang mustajab. Orang tua tidak hanya berbicara kepada anak-anaknya tentang Allah, tetapi juga berbicara kepada Allah tentang anak-anaknya.
Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam. Pendidikan melahirkan usaha, sedangkan doa melahirkan harapan. Ketika keduanya berpadu, lahirlah keluarga yang tidak mudah berputus asa, karena mereka meyakini bahwa Allah mampu membukakan pintu hidayah pada waktu yang paling tepat.
Semoga Allah menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai keluarga yang senantiasa menggantungkan harapan hanya kepada-Nya, serta mengaruniakan kepada kita ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً yang menjadi penyejuk mata di dunia dan teman menuju surga di akhirat. (im)






