Di zaman ini, manusia semakin mudah mendapatkan kenyamanan hidup, tetapi justru semakin sulit menemukan ketenangan jiwa.
Rumah semakin besar, tetapi percakapan dalam keluarga semakin kecil. Teknologi semakin canggih, tetapi hati semakin mudah cemas. Banyak orang memiliki pekerjaan mapan, kendaraan nyaman, dan fasilitas lengkap, namun tetap merasa ada ruang kosong dalam dirinya.
Mengapa demikian?
Karena ketenangan sejati bukan sekadar hasil keberhasilan duniawi. Dalam Al-Qur’an, ketenangan disebut dengan istilah sakinah (السَّكِينَة).
Secara bahasa, kata ini berasal dari akar kata سكن (sakana), yang berarti tenang, diam, menetap, atau tenteram. Dalam penjelasan Al-Raghib al-Asfahani dalam Mufradat Alfazh al-Qur’an, sakinah adalah ketenteraman yang Allah masukkan ke dalam hati sehingga jiwa menjadi stabil dan tidak mudah goncang.
Menariknya, Al-Qur’an tidak mengatakan manusia “menciptakan” sakinah. Allah menggunakan kata:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
“Dialah Allah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman.” (QS. Al-Fath: 4)
Perhatikan kata أَنْزَلَ — “menurunkan”.
Dalam Tafsir Ibn Kathir, Ibn Kathir menjelaskan bahwa sakinah adalah ketenangan, keteguhan, dan rasa aman yang Allah karuniakan kepada hati orang beriman, terutama ketika menghadapi ujian dan kegelisahan.
Artinya, sakinah bukan produk manusia. Ia adalah karunia langit.
Ada kaidah Arab yang indah:
مَنْ وَجَدَ اللَّهَ فَمَاذَا فَقَدَ؟ وَمَنْ فَقَدَ اللَّهَ فَمَاذَا وَجَدَ؟
“Siapa yang menemukan Allah, lalu apa yang kurang darinya? Dan siapa yang kehilangan Allah, lalu apa yang sebenarnya ia miliki?”
Sakinah Tidak Otomatis Datang karena Dunia
Banyak orang mengira: setelah menikah akan otomatis tenang, setelah punya rumah akan otomatis bahagia, dan setelah kaya akan otomatis damai.
Padahal belum tentu.
Pernikahan tanpa iman bisa melahirkan pertengkaran. Rumah mewah tanpa dzikir bisa terasa dingin. Harta tanpa syukur justru sering melahirkan kecemasan.
Islam tidak melarang kita memiliki dunia. Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk kuat dan bertanggung jawab. Namun Islam mengingatkan bahwa dunia hanyalah sarana, bukan sumber utama ketenangan.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Dalam Tafsir al-Qurtubi, Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan hati manusia tidak akan benar-benar tenteram kecuali dengan hubungan yang dekat kepada Allah.
Ibarat telepon genggam secanggih apa pun, ia tetap membutuhkan sinyal agar bisa berfungsi dengan baik. Begitu pula manusia. Sebagus apa pun kehidupan lahiriahnya, hatinya tetap membutuhkan “sinyal langit”.
Karena itu, tidak sedikit orang sederhana justru hidup lebih damai dibanding orang yang segala fasilitasnya lengkap.
Bukan karena mereka tidak punya masalah, tetapi karena Allah menurunkan sakinah ke dalam hati mereka.
Keluarga Sakinah Dibangun dengan Kedekatan kepada Allah
Dalam dunia tarbiyah keluarga, sering kali kita terlalu sibuk membangun fisik rumah, tetapi lupa membangun ruh rumah.
Padahal Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan untukmu agar kamu memperoleh ketenangan padanya.” (QS. Ar-Rum: 21)
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, kata لِّتَسْكُنُوا menunjukkan tujuan besar keluarga dalam Islam adalah menghadirkan ketenteraman jiwa.
Karena itu, keluarga sakinah tidak cukup dibangun dengan desain interior, fasilitas, atau kemapanan ekonomi.
Ia dibangun dengan iman, komunikasi yang lembut, doa, saling menghormati, dan kedekatan kepada Allah.
Kadang anak-anak tidak terlalu membutuhkan rumah besar. Mereka lebih membutuhkan ayah yang tenang, ibu yang penuh kasih, dan rumah yang di dalamnya ada shalat serta dzikir.
Maka jika hari ini hidup terasa sempit dan hati mudah gelisah, jangan hanya sibuk memperbaiki dunia luar. Perbaiki juga hubungan kita dengan Allah.Karena sakinah sejati bukan hasil memiliki semuanya, tetapi hasil dekat dengan Pemilik segalanya. (im)






