Pada bab sebelumnya kita membahas pentingnya taklim, yaitu menghadirkan ilmu agama sebagai cahaya yang menerangi kehidupan keluarga. Namun, ilmu saja belum cukup.
Ilmu ibarat peta yang menunjukkan arah perjalanan, sedangkan adab adalah kemampuan untuk berjalan dengan benar diatas jalan tersebut. Karena itu, setelah taklim, pilar berikutnya dalam tarbiyah keluarga adalah ta’dib, yaitu pendidikan adab dan pembentukan karakter.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm [66]: 6)
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, menjaga keluarga dari api neraka dilakukan dengan mengajarkan kebaikan, memerintahkan ketaatan, serta melarang kemaksiatan.
Perintah tersebut bukan hanya menghendaki tersampaikannya ilmu, tetapi juga tumbuhnya kebiasaan hidup yang sesuai dengan tuntunan syariat. Di sinilah letak pentingnya ta’dib.
Kata ta’dib berasal dari akar kata أَدَّبَ yang berarti mendidik, membentuk adab, memperhalus akhlak, dan membiasakan seseorang kepada perilaku yang baik. Dalam pandangan para ulama, adab bukan sekadar sopan santun, melainkan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menulis:
الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ
“Agama seluruhnya adalah akhlak. Siapa yang lebih baik akhlaknya, maka ia telah lebih baik agamanya.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan, tetapi juga dari kemuliaan akhlak yang lahir darinya.
Ta’dib: Dari Pengetahuan Menjadi Kebiasaan
Salah satu penjelasan yang sangat ringkas namun mendalam mengenai pendidikan keluarga datang dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu. Sebagaimana dikutip oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsīr al-Munīr, beliau berkata:
عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ
“Ajarkanlah mereka ilmu dan didiklah mereka dengan adab.”
Urutan ini sangat menarik. Ilmu didahulukan agar seseorang mengetahui mana yang benar, kemudian adab hadir agar ilmu itu menjelma menjadi kebiasaan hidup.
Karena itu, pendidikan keluarga tidak cukup hanya dengan nasihat yang sesekali disampaikan. Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari daripada apa yang mereka dengar sesekali. Senyum orang tua, kejujuran dalam bekerja, kesabaran menghadapi masalah, adab berbicara, serta kebiasaan menjaga salat berjamaah merupakan pelajaran yang jauh lebih membekas daripada ceramah yang panjang.
Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Ṣafwatut Tafāsīr menjelaskan makna menjaga keluarga dari neraka dengan ungkapan:
«وَتُؤَدِّبُوهُمْ بِآدَابِ الشَّرِيعَةِ، وَتَأْمُرُوهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ.»
“Didiklah mereka dengan adab-adab syariat dan perintahkan mereka untuk taat kepada Allah.”
Perhatikan bahwa yang dimaksud bukan sekadar adab sosial, tetapi adab yang bersumber dari wahyu. Dengan demikian, ukuran baik dan buruk tidak berubah mengikuti zaman, melainkan tetap merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Ada sebuah peribahasa Arab yang sangat indah:
الأَدَبُ زِينَةُ الْإِنْسَانِ
“Adab adalah perhiasan manusia.”
Ilmu membuat seseorang dihormati karena kemampuannya, sedangkan adab membuat seseorang dicintai karena kepribadiannya.
Keteladanan: Bahasa Pendidikan yang Paling Kuat
Dalam dunia pendidikan Islam dikenal sebuah prinsip bahwa keteladanan lebih kuat daripada perkataan. Anak-anak menangkap nilai bukan hanya melalui telinga, tetapi juga melalui penglihatan. Orang tua adalah “buku pertama” yang dibaca oleh anak-anak sebelum mereka membaca buku yang lain.
Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam pendidikan karakter. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 21)
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjadi dasar bahwa Rasulullah ﷺ adalah contoh sempurna dalam ucapan, perbuatan, kesabaran, dan akhlak. Oleh sebab itu, pendidikan karakter dalam keluarga harus dimulai dari keteladanan orang tua.
Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi at-Tafsīr menjelaskan bahwa keluarga merupakan tempat lahirnya ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً (dzurriyyatan ṭayyibah), yaitu generasi yang bersih akidahnya, mulia akhlaknya, dan istiqamah dalam ketaatan. Generasi seperti ini tumbuh bukan karena banyaknya aturan, tetapi karena kuatnya budaya kebaikan yang mereka rasakan setiap hari.
Ada sebuah kaidah hikmah yang sering disampaikan para ulama:
الحَالُ أَبْلَغُ مِنَ الْمَقَالِ
“Keteladanan melalui perbuatan lebih kuat daripada sekadar perkataan.”
Inilah hakikat ta’dib. Orang tua tidak hanya mengajarkan adab, tetapi menghadirkan adab dalam kehidupan sehari-hari. Ketika rumah dipenuhi kejujuran, kasih sayang, saling menghormati, disiplin, dan kecintaan kepada Allah, maka seluruh penghuni rumah sedang belajar tanpa merasa sedang diajar.
Pada akhirnya, ta’dib adalah proses membentuk hati sebelum membentuk perilaku. Jika taklim menerangi akal, maka ta’dib menyuburkan jiwa. Keduanya ibarat dua sayap yang membawa keluarga terbang menuju ridha Allah.
Dengan ilmu yang benar dan adab yang mulia, rumah akan menjadi madrasah yang tidak hanya melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga pribadi-pribadi yang lembut hatinya, kuat imannya, dan siap menjadi penerus kebaikan di tengah masyarakat. (im)






