Dzurriyyatan Tayyibah: Generasi Saleh Buah dari Tarbiyah Keluarga

by -1459 Views

Allah Swt. tidak hanya memerintahkan orang-orang beriman untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, tetapi juga mengajak mereka memikirkan masa depan generasi yang akan datang. Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Taḥrīm [66]: 6).

Pada bab-bab sebelumnya kita telah membahas bahwa perlindungan terhadap keluarga dimulai dari kesalehan pribadi, penyucian jiwa, penguatan keyakinan, tanggung jawab bersama, pengajaran ilmu, dan pendidikan adab. 

Semua pilar tersebut sesungguhnya bermuara pada satu tujuan besar, yaitu lahirnya generasi yang saleh, berakhlak mulia, dan istiqamah di atas petunjuk Allah.

Orang Arab memiliki sebuah kaidah yang indah:

الثَّمَرَةُ تَدُلُّ عَلَى صَلَاحِ الشَّجَرَةِ

“Buah menunjukkan baik atau buruknya sebuah pohon.”

Demikian pula keluarga. Anak-anak merupakan buah dari proses tarbiyah yang berlangsung bertahun-tahun di dalam rumah. Karena itu, membangun generasi saleh bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan hasil dari pendidikan yang dilakukan secara sabar, bertahap, dan penuh kasih sayang.

Generasi Saleh Dimulai dari Jiwa yang Bersih

Al-Qur’an mengabadikan doa Nabi Zakaria ketika memohon keturunan kepada Allah:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 38).

Menurut Imam Ibnu Katsir, doa ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak hanya menginginkan anak, tetapi memohon anak yang baik agama, akhlak, dan pengabdiannya kepada Allah. 

Sementara Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa yang dimaksud dzurriyyatan ṭayyibah adalah keturunan yang baik dalam agama, akhlak, dan ibadah sehingga menjadi penyejuk hati orang tuanya.

Di sinilah letak pentingnya tarbiyah keluarga. Pendidikan Islam tidak berhenti pada keberhasilan akademik atau kesuksesan duniawi. Tarbiyah bertujuan membentuk manusia yang bersih akidahnya, lurus ibadahnya, mulia akhlaknya, dan bermanfaat bagi sesama.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi at-Tafsir berulang kali menegaskan bahwa proses pendidikan harus dimulai dari tazkiyatun nafs, yaitu penyucian hati. Jiwa yang bersih akan lebih mudah menerima hidayah, sedangkan hati yang dipenuhi kesombongan, syahwat, dan kelalaian akan sulit tumbuh menjadi pribadi yang dekat kepada Allah.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya meminta anak berbuat baik. Mereka juga harus menghadirkan suasana rumah yang menumbuhkan keimanan, kejujuran, kasih sayang, dan kecintaan kepada Al-Qur’an.

Rumah sebagai Kebun Persemaian Peradaban

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829).

Imam an-Nawawi ketika mensyarahkan hadis ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki amanah sesuai lingkup kepemimpinannya. Seorang ayah bertanggung jawab atas pendidikan agama keluarganya, sementara seorang ibu bertanggung jawab atas rumah tangga dan anak-anaknya. Tanggung jawab tersebut bukan sebatas memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjaga agama dan akhlak mereka.

Para ulama sering mengingatkan bahwa rumah adalah madrasah pertama. Jika sekolah mengajarkan pengetahuan, maka keluargalah yang menanamkan nilai. Jika masyarakat membentuk kebiasaan, maka rumah membangun karakter.

Ada sebuah ungkapan Arab yang sangat relevan:

مَنْ شَبَّ عَلَى شَيْءٍ شَابَ عَلَيْهِ

“Seseorang akan tumbuh dewasa diatas kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil.”

Anak-anak ibarat benih. Benih yang ditanam di tanah yang subur, disiram dengan ilmu, dipupuk dengan kasih sayang, dan dijaga dari hama, insya Allah akan tumbuh menjadi pohon yang kuat. Sebaliknya, benih yang dibiarkan tanpa perhatian akan sulit menghasilkan buah yang baik.

Oleh sebab itu, keberhasilan tarbiyah keluarga tidak diukur dari seberapa tinggi prestasi dunia anak-anak, melainkan dari seberapa dekat mereka kepada Allah ketika dewasa. Ketika mereka tetap menjaga salat, mencintai Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, jujur dalam pekerjaan, dan bermanfaat bagi masyarakat, saat itulah orang tua sedang memanen buah dari pendidikan yang telah mereka tanam bertahun-tahun.

Membangun generasi saleh memang membutuhkan kesabaran. Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam hitungan bulan, bahkan tahun. Namun sebagaimana petani yang yakin terhadap musim panen, seorang mukmin pun meyakini bahwa setiap doa, setiap nasihat, setiap teladan, dan setiap air mata yang dipersembahkan dalam mendidik keluarga tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah. 

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keluarga yang menjadi penyejuk mata di dunia dan teman berkumpul kembali di surga-Nya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.