Bahaya Menyamakan Semua Pendapat

by -1534 Views

Kemudahan mengakses informasi telah melahirkan fenomena baru: hampir setiap orang merasa memiliki otoritas yang sama untuk berbicara tentang agama. 

Kalimat, “Menurut saya…”, sering diucapkan bahkan terhadap persoalan yang memerlukan penguasaan ilmu syar’i yang mendalam. Padahal Islam membedakan dengan tegas antara hak menyampaikan pendapat dan kelayakan menjelaskan hukum agama.

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam حلية طالب العلم mengingatkan agar penuntut ilmu menghindari sikap التصدر قبل التأهل (at-taṣaddur qabl at-ta’ahhul), yaitu tampil menjadi rujukan sebelum memiliki kualifikasi ilmiah. Beliau mengutip ungkapan para ulama:

مَنْ تَصَدَّرَ قَبْلَ أَوَانِهِ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِلْهَوَانِ

“Barang siapa tampil sebelum waktunya, maka ia telah membuka dirinya kepada kehinaan.”

Overconfidence: Ketika Sedikit Ilmu Terasa Sangat Banyak

Dalam psikologi modern dikenal Dunning-Kruger Effect, yaitu kecenderungan seseorang yang pengetahuannya masih terbatas justru merasa paling memahami suatu bidang. 

Konsep ini bukan dalil syariat, tetapi dapat membantu menjelaskan fenomena yang telah lama diamati para ulama.

Dalam literatur adab ilmu dikenal sebuah hikmah:

العِلْمُ ثَلَاثَةُ أَشْبَارٍ؛ مَنْ دَخَلَ الشِّبْرَ الأَوَّلَ تَكَبَّرَ، وَمَنْ دَخَلَ الثَّانِيَ تَوَاضَعَ، وَمَنْ دَخَلَ الثَّالِثَ عَلِمَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ

“Ilmu itu tiga jengkal. Siapa yang baru memasuki jengkal pertama akan merasa besar; ketika memasuki jengkal kedua ia menjadi rendah hati; dan ketika mencapai jengkal ketiga ia menyadari betapa sedikit ilmu yang dimilikinya.”

Walaupun ungkapan ini bukan hadis, maknanya sejalan dengan pengalaman para ulama bahwa semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula kerendahan hatinya.

Larangan Berbicara Tanpa Ilmu

Prinsip paling mendasar ditegaskan Allah SWT:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
(QS. Al-Isrā’ [17]: 36)

Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini melarang seseorang mengikuti, menyatakan, atau menetapkan sesuatu tanpa ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Larangan tersebut mencakup ucapan, keyakinan, maupun kesaksian.

Karena itu, para ulama terdahulu tidak malu mengucapkan:

لَا أَدْرِي

“Aku tidak tahu.”

Bahkan Syaikh Bakr Abu Zaid menyebutkan bahwa kalimat ini merupakan benteng seorang alim, karena menjaga dirinya dari berbicara melampaui batas ilmu yang dimilikinya.

Penutup

Islam tidak melarang seseorang berpikir, bertanya, atau berdiskusi. Namun Islam mengajarkan adab bahwa setiap pendapat memiliki bobot yang berbeda sesuai kompetensi, metodologi, dan dalil yang melandasinya. 

Menyamakan seluruh pendapat berarti mengabaikan jerih payah tradisi keilmuan yang telah dibangun para ulama selama berabad-abad.

Kerendahan hati untuk berkata “saya belum tahu” sering kali merupakan tanda ilmu yang lebih besar daripada keberanian berbicara tentang segala sesuatu. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.