Mengapa Islam Memerintahkan Melihat Siapa Gurumu?

by -1579 Views

Salah satu keistimewaan tradisi keilmuan Islam adalah perhatian yang sangat besar terhadap sumber ilmu. 

Seorang guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pembimbing yang menjaga ketepatan pemahaman, adab, dan metodologi. Para ulama tidak hanya bertanya apa yang diajarkan, tetapi juga siapa yang mengajarkannya.

Muhammad bin Sirin رحمه الله berkata:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim ini menjadi salah satu fondasi adab menuntut ilmu.

Mengapa Sanad Dilahirkan?

Sanad adalah mata rantai transmisi ilmu dari guru kepada murid. Tujuannya bukan sekadar menjaga nama-nama periwayat, tetapi menjaga kemurnian makna.

Imam Al-Auza’i رحمه الله pernah berkata:

كَانَ هَذَا الْعِلْمُ شَرِيفًا إِذْ كَانَ مِنْ أَفْوَاهِ الرِّجَالِ، فَلَمَّا صَارَ فِي الْكُتُبِ دَخَلَ فِيهِ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ

“Ilmu ini dahulu tetap mulia ketika diterima langsung dari lisan para ulama. Ketika ia berpindah ke dalam buku-buku, masuk pula orang-orang yang bukan ahlinya.”

Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan dalam حلية طالب العلم bahwa membaca tetap penting, tetapi proses talaqqi kepada guru merupakan fondasi pembentukan pemahaman yang benar.

Mengapa Tradisi Ijazah Muncul?

Dalam sejarah Islam, lahirnya ijazah bukan untuk membangun hierarki sosial, melainkan sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah. Ijazah menunjukkan bahwa seorang murid telah mempelajari suatu disiplin secara bertahap di bawah bimbingan gurunya.

Para ulama bahkan mengingatkan:

مَنْ حُرِمَ الْأُصُولَ حُرِمَ الْوُصُولَ

“Siapa yang kehilangan dasar-dasar ilmu, ia akan terhalang mencapai tujuannya.”

Karena itu, penguasaan ushul (fondasi) selalu didahulukan sebelum seseorang berbicara mengenai persoalan-persoalan yang lebih kompleks.

Mengapa Ulama Menulis Biografi Guru?

Banyaknya kitab ṭabaqāt, tarājim, dan siyar menunjukkan bahwa para ulama memandang penting silsilah keilmuan. Mereka tidak hanya meriwayatkan sebuah pendapat, tetapi juga menjelaskan dari siapa ilmu itu diperoleh.

Dikisahkan bahwa Abu Hayyan al-Andalusi ketika mendengar nama seorang ulama selalu bertanya:

أَيْنَ شُيُوخُهُ؟

“Siapa guru-gurunya?”

Pertanyaan ini bukan untuk mengultuskan individu, melainkan untuk memastikan bahwa ilmu tersebut memiliki akar metodologis yang jelas.

Penutup

Islam tidak mengajarkan fanatisme kepada guru, tetapi juga tidak mengajarkan belajar agama tanpa bimbingan. Guru, sanad, dan ijazah merupakan instrumen yang dibangun umat Islam untuk menjaga kemurnian ilmu, sebagaimana rantai periwayatan menjaga kemurnian hadis.

Di era ketika setiap orang dapat berbicara melalui media digital, prinsip yang diwariskan Muhammad bin Sirin tetap relevan. Keterbukaan terhadap ilmu harus berjalan seiring dengan ketelitian memilih guru.

Dalam Islam, ilmu bukan sekadar informasi, melainkan amanah yang akan membimbing seseorang dalam beribadah kepada Allah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.